Macan Tutul, Identitas Fauna Jawa Barat

17macan-tutul

Macan Tutul (Panthera pardus) ditetapkan sebagai Identitas Fauna Jawa Barat menggantikan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomo 27 Tahun 2005 tanggal 20 Juni 2005.

Tujuan penetapan identitas fauna Jawa Barat ini adalah :

  1. Meningkatkan rasa ikut memiliki dan menanamkan kebanggan terhadap suati jenis tumbuhan dan satwa sebagai bagian dari upaya melestarikan plasma nutfah
  2. Meningkatkan kesadaran masyarakat agar dapat berperan serta aktif dalam upaya pelestarian keberadaannya
  3. Sebagai sarana meningkatkan promosi kepariwisataan daerah
  4. Sebagai sarana untuk mendorong perkembangan industri daerah

Macan Tutul atau dikenal Macan Jawa merupakan satu-satunya jenis kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa. Di Jawa Barat terdapat dua jenis kucing besar, yaitu Harimau Jawa dan Macan Tutul. Namun keberadaan Harimau Jawa sampai saat ini belum banyak diketahui, bahkan sebagian ilmuan telang menganggapnya punah. Sedangkan Macan Tutul dengan semua tekanan yang ada sampai saat ini masih dapat bertahan hidup.

Sejak  zaman dahulu Macan Tutul dikenal sangan cerdik, kemampuan istimewanya antara lain memiliki pendengaran dan penglihatan yang kuat serta tangguh dalam memanjat pohon. Macan Tutul aktif di malam hari dan ada beberapa yang juga berburu pada siang hari, dapat memakan berbagai jenis binatang hutan mulai dari Babi Hutan, Kancil, Monyet, burung, hewan pengerat sampai serangga. Dengan semua keistimewaannya ini tidak salah jika Provinsi Jawa Barat menggunakan hewan ini sebagai perlambang kekuatan, kecerdikan, kegagahan dan keindahan.

Profil

Klasifikasi

Macan Tutul merupakan hewan bertulang belakang (Vertebrata) yang klasifikasinya sebagai berikut :

Kingdom          : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                : Mammalia

Ordo                : Carnivora

Sub Ordo         : Fissipedia

Family             : Felidae

Genus              : Panthera

Species            : Panthera pardus Linnaeus, 1758

Sub species      : Panthera pardus melas Cuvier, 1809

Nama Daerah : Di Indonesia ada dua nama, yaitu Macan Tutul dan Macan Kumbang

Deskripsi

Di Asia Tenggara Macan Tutul adalah karnivora terbesar kedua setelah Hariamau. Berat rata-rata Macan Tutul jantan adalah 55 kg, dan macan betina 30 kg. Hal yang menarik dari Macan Tutul adalah memiliki dua pola warna, ada yang berwarna kuninga dengan bintik-bintik hitam dan ada yang berwarna hitam (orang sering  menyebutnya Macan Kumbang), yang jika diperhatikan diantara pekatnya warna rambut Macan Kumbang akan terlihat bintik-bintik, mirip sekali dengan Macan Tutul Kuning.

Macan Tutul pada umumnya memiliki rambut dengan warna yang bervariasi, mulai dari kuning pucat hingga warna emas gelap dengan pola bintik-bintik hitam. Kepala, kaki bagian bawah dan bagian perut berbintik hitam pekat. Warna dan pola rambut tersebut sangat sesuai untuk berkamuflase dengan habitat alaminya.

Rambut anak Macan Tutul cenderung lebih panjang dan lebih tebal dibandingkan rambut Macan Tutul dewasa, warna rambutnya abu-abu dengan bintik-bintik yang jarang. Anak Macan Tutul lahir dengan jumlah 2-3 ekor, anak macan akan membuka matanya dalam waktu 10 hari setelah dilahirkan dan selama 3 bulan, anak Macan Tutul akan mengikuti induknya untuk berburu.

Perilaku

Macan Tutul betina cenderung untuk memelihara anaknya, betina yang sedang hamil akan mencari gua, celah diantara batu, semak belukar, serta rongga pohon sebagai tempat untuk melahirkan dan merawat anaknya. Macan Tutul jantan juga ikut membantu pasangannya pada masa berkembangbiak, salah satunya adalah dengan membawakan hasil buruan induk jantan untuk makanan anak dan induk betina.

Macan Tutul lebih banyak berburu di atas tanah, dan merupakan pemburu yang handal dengan rata-rata daerah perburuan sekitar 11-37 km2 , hewan ini akan menerkam mangsanya lalu menyeret kemudian mengangkatnya ke atas dahan, meskipun seringkali mangsanya berukuran lebih besar daripada tubuhnya, contoh Babi Hutan. Macan Tutul ini hidup soliter, persebarannya bergantung pada ketersediaan sumber makanan, hewan ini biasa melakukan penandaan wilayah kekuasaannya dengan mengeluarkan urine dan membuat cakaran pada pohon.

Habitat

Kelebihan Macan Tutul dibanding kucing besar lain yang ada di dunia adalah mudah beradaptasi dan hampir dapat ditemukan pada seluruh tipe habitat. Di Indonesia, Macan Tutul hanya ditemukan di Pulau Jawa. Hewan ini tidak ditemukan di Sumatera, karena adanya kehadiran Harimau dan ke enam spesies lain dari family felidae. Macan Tutul juga tidak ditemukan di Pulau Kalimantan karena ketidaktersediaan mangsa utama mereka.

Macan Tutul hidup di hutan-hutan yang masih alami atau padang rumput. Keberandaan Macan Tutul sangat dipengaruhi jumlah makanan dan kondisi alam untuk kamuflase dalam berburu atau melindungi diri.

Secara global, Macan Tutul tersebar di banyak wilayah yang meliputi wilayah Asia dan Afrika. Besarnya sebaran Macan Tutul ini menimbulkan variasi genetis dan morfologis pada tiap sub spesiesnya. Pada saat ini di provinsi Jawa Barat, Macan Tutul masih dapat dijumpai di beberapa kawasan :

  • Taman Nasional Gunung Halimun-Salak
  • Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango
  • Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan-Majalengka
  • Cagar Alam Leuweung Sancang
  • Gunung Patuha, Ciwidey
  • Cagar Alam Gunung Simpang, Cianjur
  • Cagar Alam Gunung Tilu, Cianjur
  • Dan beberapa daerah lain yang tersebar di provinsi Jawa Barat

Konservasi

Walaupun daya adaptasi Macan Tutul terhadap perubahan habitat cukup tinggi, namun berkurangnya luas habitat serta perburuan menyebabkan hewan ini semakin berkurang jumlahnya di alam.

Satwa ini dilindungi berdasarkan Undang-Undang RI No.5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999, sedangkan menurut menurut kriteria CITES (Konvensi internasional untuk perdagangan spesies terancam punah) pada tahun 2001 Macan Tutul termasuk Appendix I.

Menurut kriteria IUCN, hewan ini termasuk kategori genting (endangered) yang artinya jenis yang menghadapi resiko kepunahan sangat tinggi. Hewan yang termasuk dalam kriteria ini adalah spesies yang telah berkurang di alam sebesar 50% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dan memiliki peluang untuk punah lebih dari 20% dalam waktu 20 tahun kedepan.

Hewan ini memiliki fungsi menjaga keseimbangan ekosistem sehingga sangat diperlukan keberadaannya di muka bumi ini, mengingat hewan ini sebagai salah satu top predator di ekosistem hutan. Apabila sudah tidak terdapat lagi maka siklus kehidupan di ekosistem tersebut akan mengalami gangguan yang dapat berakibat terhadap keberlangsungan kehidupan manusia.

Upaya tindakan konservasi Macan Tutul harus dilakukan secara maksimal dimana dibutuhkan perencanaan dan pelaksanaan yang matang serta berkelanjutan. Untuk itu marilah kita menjaga kelestariannya dengan tidak merusak kawasan hutan, dan tidak melakukan perburuan dan perdagangan Macan Tutul. Sayangilah satwa dan lingkungan sekitar kita.

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: