Identifikasi dan Inventarisasi Sumber Benih di Taman Nasional Gunung Ciremai

Latar Belakang

Salah satu kegiatan untuk mengupayakan penanggulangan deforestasi kawasan TNGC adalah kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL), dimana kegiatan tersebut berusaha mengembalikan fungsi kawasan hutan sesuai dengan fungsinya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASejak kawasan Gunung Ciremai dirubah menjadi Taman Nasional Gunung Ciremai berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.424/Menhut-II/2004, sebagian kawasan telah mengalami kerusakan yang diakibatkan adanya aktifitas hutan produksi serta aktifitas pertanian masyarakat. Sebagian dari bekas areal produksi tersebut menjadi kawasan “subur” yang ditumbuhi semak belukar dan alang-alang yang rawan terbakar pada musim kemarau dan kurang mendukung terhadap status kawasan TNGC.

Kegiatan RHL di kawasan TNGC mirip kegiatan restorasi dan tidak sama dengan RHL di kawasan hutan non konservasi, tanaman yang ditanam di kawasan TNGC harus merupakan tanaman asli TNGC untuk menjaga keaslian dari keanekaragaman hayati dan ekosistem asli yang sudah ada. Jenis-jenis tanaman asli kawasan TNGC sebagian dapat tumbuh di tempat lain. Namun keberadaan bibit untuk jenis tersebut relatif sulit ditemukan serta dikhawatirkan kondisinya tidak sama dengan jenis dari yang tumbuh di kawasan. Sedangkan keberhasilan dari kegiatan rehabilitasi dan restorasi sangat tergantung pada penyediaan benih yang bermutu, yaitu unggul secara genetik, tersedia dalam jumlah yang cukup serta baik dalam kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Tujuan

  1. Pendataan tegakan hutan kawasan TNGC yang berpotensi sebagai sumber benih
  2. Identifikasi dan inventarisasi potensi keanekaragaman hayati yang terdapat di tegakan hutan TNGC yang berpotensi sebagai sumber benih
  3. Pemetaan tegakan hutan kawasan TNGC yang berpotensi sebagai sumber benih
  4. Mempersiapkan upaya kegiatan pemberdayaan masyarakat terutama pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Hasil Kegiatan

Kegiatan identifikasi dan inventarisasi sumber benih di kawasan TNGC dilaksanakan di beberapa resort dengan hasil sebagai berikut :

Resort Sangiang

  1. Blok Gunungputeri

Luas keseluruhan : ±20 Ha

Jenis pohon sumber benih : Saninten

Nama ilmiah : Castanopolis argentea

Luas tegakan sumber benih : 20 Ha

Ketinggian tempat : 1.200-1.300 mdpl

Manfaat jenis pohon

1.Ekonomi : belum dimanfaatkan

2.Ekologi : buah dan pucuk daunnya sebagai pakan beberapa jenis primata dan burung

  1. Blok Situ Sangiang

Luas keseluruhan : ±97 Ha

Jenis pohon sumber benih : Pingku

Nama ilmiah : Dysoxyum excelsum

Luas tegakan sumber benih : 6 Ha

Ketinggian tempat : 1.000-1.020 mdpl

Manfaat jenis pohon

1.Ekonomi : belum dimanfaatkan

2.Ekologi : buah dan pucuk daunnya sebagai pakan beberapa jenis primata dan burung

Resort Argamukti

  1. Blok Barusegara

Luas keseluruhan : 1,3 Ha

Jenis pohon sumber benih : Saninten

Nama ilmiah : Castanopsis argentea

Luas tegakan sumber benih : 1,3 Ha

Ketinggian tempat : 1.300-1.350 mdpl

Manfaat jenis pohon

1.Ekonomi : belum dimanfaatkan

2.Ekologi : buah dan pucuk daunnya sebagai pakan beberapa jenis primata dan burung

Resort Darma

  1. Blok Haurseah

Luas keseluruhan : 2 Ha

Jenis pohon sumber benih : Pinus

Nama ilmiah : Pinus merkusii

Luas tegakan sumber benih : 2 Ha

Ketinggian tempat : 1.100 mdpl

Manfaat jenis pohon

b.Ekonomi : belum dimanfaatkan

  1. Ekologi : pencegah erosi dan lahan kritis

Resort Cilimus

  1. Blok Cibeureum

Luas keseluruhan : 12,6 Ha

Jenis pohon sumber benih : Binuang

Nama ilmiah : Octomeles sumatrana

Luas tegakan sumber benih : 12,6 Ha

Ketinggian tempat : 500-600 mdpl

Manfaat jenis pohon

b.Ekonomi : belum dimanfaatkan

c.Ekologi :

Kesimpulan dan Saran

  1. Jenis yang akan dijadikan sumber benih adalah pepohonan yang tumbuh pada formasi hutan dataran rendah dan hutan pegunungan di ketinggian 2-1.500 mdpl
  2. Seluruh tegakan benih yang ada di kawasan TNGC diklasifikasikan sebagai Tegakan Benih Terindentifikasi
  3. Perlu adanya pengamatan dan penelitian lebih lanjut perihal masa berbunga dan berbuah jenis pepohonan dari sumber benih
  4. Adanya peralatan pemantau kondisi fisik lingkungan di lokasi sumber benih seperti pengukur suhu dan kelembaban untuk memperoleh analisa tentang kondisi lokasi sumber benih yang lebih akurat
  5. Perlu adanya upaya sertifikasi yang dikeluarkan oleh Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) agar mutu kualitas dan kuantitas sumber benih tetap terjaga

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: