Primata Langka Itu Ada di TNGC

Oleh : Iwan Sunandi, S.Hut (PEH Pelaksana Lanjutan)

74kukangKukang berasal dari Ordo Primate, menempati Sub Ordo Prosimian dan Family Lorisidae. Terdapat sedikitnya tiga spesies di Asia, yaitu slow loris (Nycticebus coucang), pygmy loris (Nycticebus pygmaeus) dan slender loris (Loris tardigardus).

Empat sub spesies dari slow loris yang ada, antara lain Nycticebus coucang bengalensis yang terdapat di Assam, Myanmar, Thailand dan Indo-Cina. Secara morfologi, berukuran besar dengan berat ± 2000g dan berwarna cerah. Nycticebus coucang, tersebar di Malaysia, Sumatera, Thailand bagian Selatan, sebelah Utara Kepulauan Natuna. Berukuran lebih kecil daripada Nycticebus coucang bengalensis, berwarna coklat terang dengan bagian dahi yang lebih gelap. Ketiga, Nycticebus coucang menagensis yang dapat dijumpai di daerah Borneo, Bangka dengan ukuran tubuh relative lebih kecil jika dibandingkan dengan Nycticebus coucang coucang. Terakhir, Nycticebus coucang javanicus, sesuai dengan namanya penyebarannya di Pulau Jawa. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada sub spesies lainnya, dengan corak yang tebal pada bagian dorsal (punggung) yang menjadikan perbedaan yang cukup mencolok.

Di Indonesia belum ditemui adanya skema pasti mengenai keberadaan dan distribusi satwa ini. Penduduk lokal bahkan kerap kali keliru menganalogikannya dengan kus-kus. Hal ini dikarenakan keterbatasan dalam penyampaian informasi.

Perilaku

Kukang terkenal dengan kehidupan malamnya (nokturnal) dan memakan beberapa buah-buahan dan sayuran, juga beberapa insecta, ma- mmalia kecil dan bahkan burung. Umumnya mereka meraih makanan de- ngan salah satu tangan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Berbeda halnya dengan minum, cara yang dilakukan pun cukup unik. Mereka tidak minum langsung dari sumbernya tetapi mereka membasahi tangannya dan menjilatinya.

Layaknya hewan-hewan nocturnal lainnya, pada siang hari kukang beristirahat atau tidur pada cabang-cabang pohon. Bahkan ada yang membenamkan diri ke dalam tumpukan serasah tetapi hal ini sangat jarang ditemui. Satu yang unik dari kebiasaan tidur kukang yaitu posisi dimana mereka akan menggulungkan badan, kepala diletakkan diantara kedua lutut/ekstrimitasnya.

Ketika malam hari tiba, kukang mulai melakkukan aktivitasnya. Mereka bergerak dengan menggunakan 4 anggota tubuhnya, pergerakan seperti ini disebut dengan quadropedal ke segala arah baik itu peregrakan vertikal ataupun horizontal (climbing). Pada hewan-hewan yang hidup di penangkaran, mereka bergerak memanjat dan mengitari kandang. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya di alam, kukang yang hidup di penangkaran pun menciumi segala sesuatu / objek yang ditemuinya serta melakukan penandaan / marking dengan urine.

Berdasarkan rekaman hasil penelitian di lapangan,diketahui bahwa kukang hidup secara soliter, walaupun di beberapa saat ditemui adanya interaksi namun tidak lebih sebatas fase tahapan reproduksi. Masa birahi pada kukang berkisar antara 30-40 hari. Pada hewan betina, jika memasuki masa birahi maka akan lebih sering mengeluarkan suara / vokalisasi berupa siulan. Selain itu, terjadi pembengkakan pada area genitalnya. Jika jantan mendengarkan dan tertarik akan siulan betina, maka jantan kemudian mendekati betina dan mengadakan kopulasi. Masa kehamilan selama 176 sampai 198 hari atau kurang lebih selama 6 bulan.

Terancam Punah

Berdasarkan survey dan monitoring yang dilakukan ProFauna Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2006, diperkirakan setiap tahunnya ada sekitar 6000 hingga 7000 ekor kukang yang ditangkap dari alam di wilayah Indonesia untuk diperdagangkan. Ini menjadi serius bagi kelestarian kukang di alam, mengingat perkembangbiakan kukang cukup lambat yaitu hanya bisa melahirkan seekor anak dalam satu tahun setengah.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 (pasal 5), suatu jenis satwa wajib ditetapkan dalam golongan dilindungi apabila telah mempunyai kriteria;

1.  Mempuyai populasi kecil

2.  Adanya penurunan yang tajam pada jumlah individu di alam.

  1. 3.  Daerah penyebaran yang terbatas (endemik).

Permasalahan lain adalah belum adanya data ilmiah yang pasti mengenai populasi liar kukang di alam. Kukang yang aktif di malam hari dengan pergerakannya yang lambat membuat sangat sulit untuk menemui kukang di alam. Anehnya para penangkap kukang dengan mudah bisa menemukan kukang di alam. Dikhawatirkan tanpa disadari populasi kukang di alam akan turun drastis akibat penangkapan untuk diperdagangkan.

Meski kukang telah dilindungi, namun upaya penegakan hukumnya mesti ditingkatkan. Perlindungan di tingkat internasional yang lebih ketat dengan memasukan kukang ke dalam apendix I CITES akan membantu kukang untuk tetap lestari. Karena kukang telah dilindungi oleh undang-unang Republik Indonesia, maka sudah sepatutnya pemerintah Indonesia juga mendukung upaya menaikan status kukang untuk masuk dalam apendix I CITES. Dengan demikian perdagangan internasional kukang tidak akan boleh lagi hasil penangkapan dari alam.

Keberadaan di TNGC.

Balai Taman Nasional Gunung Ciremai memiliki tugas pokok dan fungsi pengembangan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang diterjemahkan ke dalam beberapa kegiatan pengelolaan diantaranya adalah pengelolaan keanekaragaman hayati. 

Di dalam pengelolaan sebagai langkah awal diperlukan data dasar untuk pengelolaan selanjutnya, salah satu upaya untuk mengetahui potensi fauna di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yaitu pemasangan kamera trap.

Pada awalnya tujuan pemasangan Kamera trap khususnya di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kuningan bekerjasama dengan Conservation International (CI) untuk mendeteksi keberadaan Macan Tutul  (Panthera pardus) dikawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Atas dasar pertimbangan ketinggian, tipe habitat, formasi tumbuhan ada 7 lokasi terpilih yang cocok untuk pemasangan kamera yaitu Blok Sigedong, Panyusupan Resort Mandirancan, Blok Manduraga Resort Cilimus, Blok Sayana, Sukamukti Resort Jalaksana, Blok Kopi Gewok Resort Cigugur dan Blok Sagarahiang Resort Darma

Kamera Trap berhasil mendeteksi keberadaan macan Tutul (Panthera pardus) diblok Sigedong resort Mandirancan dan Blok Sukamukti, Sayana Resort Jalaksana berikut kemunculan Kukang (Nicticebus javanicus) diblok Sukamukti. Dengan ditemukannya primata langka sejenis kukang, kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai menjadi bagian dari penyebaran kukang di Pulau Jawa yang perlu perhatian penuh dalam upaya menjaga dan melindungi habitatnya

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: