Leptophryne cruentata (Kodok Merah, Bleeding Toad/Fire Toad)

Kodok Merah (Leptophyrne cruentata)

Satu lagi bukti kekayaan keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yaitu Kodok Merah. Kodok Merah diketemukan di Blok Ipukan Desa Cisantana Resort Cigugur SPTN I Kuningan.

Kodok Merah atau Leptophryne cruentata merupakan jenis kodok endemik yang langka. Kodok Merah merupakan spesies ampibi endemik Jawa Indonesia yang hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Kodok Merah pun menjadi salah satu hewan langka yang terancam punah. Sehingga tidak berlebihan jika kemudian IUCN Redlist mencatatnya dengan status Critically Endangered (Kritis). Meskipun di Indonesia sendiri Kodok ini luput dari daftar satwa yang dilindungi.

Kodok Merah sering kali disebut juga sebagai Katak Darah. Kodok Merah dalam bahasa Inggris disebut sebagai Bleeding Toad atau Fire Toad. Sedangkan dalam bahasa latin (nama ilmiah) hewan ini disebut Leptophryne cruentata. Nama latinnya ini mempunyai arti kurang lebih ‘berdarah’.

Kodok ini menyukai daerah dekat air yang mengalir deras di daerah berketinggian antara 1.000 – 2.000 meter dpl. Habitatnya diketemukan terdapat di Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Selebihnya tentang perilaku Kodok Merah (Bleeding Toad) belum banyak yang diketahui.

Karena daerah sebarannya yang sangat sempit (endemik lokal) dan populasinya yang menurun drastis IUCN Redlist memasukkannya dalam daftar spesies Critically Endangered (Kritis) yang merupakan tingkat keterancaman tertinggi sebelum punah.

Sayangnya, meskipun populasinya sangat sedikit dan sebarannya yang sangat sempit, hewan langka, hewan endemik.

Ciri-Ciri Khusus : Kodok kecil dan ramping, memiliki sebuah kelenjar paratoid yang kecil, kadang-kadang tidak jelas, tidak terdapat alur bertulang di kepala, ujung jari tangan dan kaki agak membengkak, jari-jari ke 3 dan ke 5 membentuk jaringan sampai ke benjolan subartikuler. Kulitnya tertutup oleh bintil berupa butir kecil-kecil. Jantan dewasa berukuran antara 20-30 mm menurun tajam dibandingkan tahun 1960-an.

Habitat : Biasanya terdapat banyak sekali di sungai-sungai kecil dekat air terjun, baik di dalam lubang-lubang berbatu maupun di sekitar aliran air yang lebih lambat. Berudu umumnya ditemukan di sungai pada bagian air yang mengalir sangat lambat dan ditumbuhi vegetasi yang relatif rapat.

Kalsifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Amphibia; Ordo: Anura; Famili: Bufonidae; Genus: Leptophryne; Spesies: Leptophryne cruentata.

dari berbagai sumber

Check it out ! tonton video hasil kerjasama Balai TNGC dengan PILI

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: