Ciremai Linggasana

Gunung Ciremai, kata orang gunung ini cukup merepotkan untuk pendaki pemula kaya saya. Yaa, justru itu yang semakin membuat saya tertarik untuk mendaki gunung di kota Kuningan ini.
Rencana untuk mendaki gunung ini langsung saya sebar kebeberapa teman. Alhasil beberapa orang berniat ikut dalam perjalanan kali ini, kecuali mereka yang sudah lebih dulu mencoba mendaki gunung ini. Awalnya kami telah terkumpul empat orang, tapi karena satu orang sibuk dengan urusan kuliahnya akhirnya batal ikut, namun kami bertiga memutuskan untuk tetap berangkat. Bermodal baca baca dari media on line dan saran dari teman yang sudah pernah ke gunung Ciremai, kami langsung tancap gas menuju kota Kuningan, Jawa Barat.Setelah packing packing malam harinya, sabtu siang kami langsung menuju terminal Lebak Bulus untuk mencari bus jurusan Kuningan. Bis ternyata masih menunggu penumpang penuh, sehingga kami harus turut menunggu. Sekitar 30 menit menunggu akhirnya bis pun jalan menuju Kuningan. Lama kami diperjalanan akhirnya akan sampai di Cirebon, ternyata bis tidak lewat jalan yang kami kira (Cilimus) namun malah melewati Cirebon bagian timur. Kami pun harus turun di tengah perjalanan, tepatnya di pintu tol Cipeurna. Setelah turun langsung nyambung dengan bis mini menuju Cilimus atau pertigaan Linggarjati. Dari pertinggan Linggarjati kami naik angkot dan turun di desa Linggasana, karena kami memang memilih lewat jalur Linggasana di banding Linggarjati.

Setelah sampai di depan desa Linggasana kami langsung mengurus perizinan+retribusi. Khusus jalur Linggasana, perizinan+retribusi dilakukan tepat sisi gapura masuk desa Linggasana yaitu kepada masyarakat sekitar. Selesai mengurus semuanya, kami lanjutkan perjalanan dan gunung Ciremai sudah di depan mata. Dalam perjalanan menuju batas desa dan masuk ke hutan, kami bertegur sapa dengan warga sekitar dan mendapat sedikit wejangan pula. Tak sampai satu jam kami berjalan, hari semakin gelap dan kami putuskan untuk bermalam dulu di perkemahan.
Gunung Ciremai dari desa Linggasana
Pagi hari kami bangun, dan udara segar pun mulai memasuki tenda saat pintu tenda kami buka. Selesai sarapan, mengisi perbekalan air dan packing packing, kami lanjutkan pendakian. Perjalanan dari perkemahan sampai pos kondang amis memakan waktu sekitar dua jam dengan kondisi jalan yang cukup landai. Tiba di kondang amis kami istirahat sejenak, dan meneruskan ke pos kuburan kuda. Di pos kuburan kuda kami berpapasan dengan pendaki lain yang ingin turun. Dan ternyata kami adalah pendaki terakhir yang ada di gunung hari itu, karena semua pendaki sudah mulai turun gunung. Selepas kuburan kuda jalan semakin menanjak dan cukup membuat kami kelelahan. Jalan dari pos kuburan kuda sampai pos sangga buana 1 melewati beberapa tanjakan (bapa tere dan seruni) yang cukup berat bahkan sampai merambat di akar akar. Dan itu membuat kami kelelahan dan perjalanan pun jadi ikut melambat. Seletah melewati beberapa pos dan tanjakan terjal, tibalah kami di pos sangga buana 1. Atas pertimbangan kondisi fisik dan waktu yang sudah menjelang magrib, akhirnya kami mendirikan tenda dan bermalam di pos sangga buana 1.
Mulai Jalan
Mulai Kecapean
Pos Kondang Amis
Camp, Pos Sangga Buana 1
Semalam udara begitu dingin, karena kami hanya berbalut satu sleeping bag yang digelar untuk bertiga. Tidur menggigil tak cukup membuat pulas, sampai akhirnya pagi datang dan sinar sinar matahari menerobos sela sela pepohonan. Bangun dan kemudian sarapan, kami langsung bersiap untuk muncak. Hari itu sangat sepi, gak ada pendaki yang baru naik ataupun turun, dan gunung seperti milik kami bertiga. Lanjut kami ke atas, sampai lah di sangga buana 2 yang lumayan baik untuk tempat ngecamp. Lanjut jalan lagi sampai juga kami di pos pangasinan, pos favorit yang sebenarnya di gunung ini. Sayang kondisi fisik kami gak mampu membawa kami untuk bermalam di sini. Kami hanya liat liat sebentar dan meneruskan perjalanan ke puncak. Matahari semakin tinggi dan hari semakin panas, sambil sesekali mengumpat disela sela cerukan dan pohon pohon kecil, dan akhirnya tiba lah kami di puncak gunung Ciremai 3.027 MDPL (puncak panglongokan). Yaa, tiga bocah bau kencur, sampai juga di puncak Ciremai.
Pos Pangasinan
Puncak G Ciremai
Kawah Kembar
G Slamet Dari Puncak G Ciremai
Info:
Transportasi :
Jakarta (term. L. Bulus) – Tol Ciperna : Bus Luragung, Rp. 40 – 45 ribu/ orang
Tol Ciperna – Pertigaan Linggarjati : Mini Bus, Rp. 3 –  5 ribu/ orang
Per. Linggarjati – Desa Linggasana : Angkutan umum, Rp. 3 ribu/ orang
Perizinan:
Gerbang masuk desa, Rp. 10.000/ orang
sumber :http://tiangbambu.blogspot.com
Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: