Katak Merah, Indikasi Kelestarian Air di Gunung Ciremai

kodok-merah-leptophyrne-cruentata

Mata air di Ciremai memberikan suplai yang melimpah bagi Kota Cirebon di hilir.

 

Petugas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat, sedang meneliti kemungkinan katak merah, salah satu jenis satwa langka di hutan tropis, ditemukan juga di hutan Ciremai. Penelusuran awal pada tahun ini menunjukkan, seekor katak merah sempat terekam kamera di kawasan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

“Kalau betul itu katak merah, hal tersebut menandakan kondisi air di kawasan Ciremai masih baik. Katak merah yang selama ini hanya ditemui terbatas di sejumlah kawasan, seperti di Gunung Salak, Gunung Pangrango, dan Gunung Slamet, kemungkinan juga hidup di Gunung Ciremai,” kata Ahmad Fuad, Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), di Kuningan, Rabu (22/10).

Sejumlah mata air di Kuningan, salah satunya di Cigugur, juga menjadi tempat hidup satwa lain yang mengindikasikan kondisi air masih sehat dan bersih. Salah satunya ialah ikan kancra atau ikan dewa, yang hingga kini dilestarikan di kolam ikan Cigugur, Pasawahan, dan Cibulan.

Ikan dewa itu juga dikeramatkan oleh warga sekitar Ciremai sebab dinilai membawa berkah. Fuad menambahkan, penelitian tentang katak merah di Ciremai menjadi salah satu fokus bagi BTNGC, utamanya dalam upaya mereka untuk melestarikan sumber-sumber mata air di kawasan Gunung Ciremai.

Mata air dari gunung itu menjadi sumber air minum warga di kawasan Cirebon dan sebagian Brebes. “Dalam kondisi kekeringan panjang seperti ini, mata air yang lestari merupakan salah satu fokus kami. Ciremai adalah penyangga kehidupan bagi daerah lain yang ada di hilir. Kalau air dari Ciremai rusak, wilayah di bawahnya, seperti Cirebon, akan kekurangan pasokan air minum,” katanya.

Kepala Balai TNGC Padmo Wiyoso menuturkan, upaya lain juga dilakukan untuk menjaga kelestarian air di Ciremai. Salah satunya dengan penanaman bambu di kawasan perbatasan antara wilayah hutan dan perkampungan warga. Upaya ini sedang dimulai dengan komunitas bambu di Cirebon.

Mata air di Ciremai memberikan suplai yang melimpah bagi Kota Cirebon di hilir. Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan Kuningan mencatat, biaya kompensasi yang harus dibayarkan Cirebon kepada daerahnya atas penggunaan air bersih ialah Rp 80 per meter kubik. Dengan kompensasi jasa lingkungan yang diterima Kuningan rata-rata Rp 2 miliar per tahun, sedikitnya 25 juta meter kubik air bersih telah dialirkan dari Kuningan menuju Cirebon setiap tahun.

sumber : http://nationalgeographic.co.id

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: