JALAN PAGI DI LINGGASANA

IMG_8719

Desa Linggasana terletak di kaki gunung ciremai pada ketinggian 639 meter dpl. Secara administratif pemerintahan termasuk kedalam kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.  Seperti pedesaan kaki gunung pada umumnya memiliki udara sejuk, air jernih mengalir deras dan keramahan penduduk khas sunda.

Desa Linggasana mempunyai bentak alam memanjang, dimulai dari Open Space Gallery Linggarjati kemudian lurus terus untuk mencapai gerbang desa.

Di desa ini terdapat tempat menarik seperti Hotel Ayong, Hotel Linggarjati, Taman Wisata Alam Linggarjati, Rumah Makan Berfasilitas dan tentunya Jalur Pendakian menuju puncak gunung ciremai.

PAGI ITU

Pagi itu begitu cerah, mentari bersinar terang menyinari desa indah ini. Perjalanan saya pun dimulai. Pertama kali saya menuju rumah Mang Deni yang kebetulan merupakan Ketua MPGC (Mitra Pendakian Gunung Ciremai) Linggasana. Tak lama kamipun berangkat. Oh ya, waktu itu misi saya hanya hunting foto saja. Jadi peralatan yang dibawa hanya Kamera, GPS dan alat tulis. Karena jarak yang ditempuh sangat dekat maka saya memutuskan hanya membawa air mineral dan beberapa makanan ringan.
IMG_6949
JALAN KAKI

Jalan kaki dimulai dari Pos Tiket Pendakian Linggasana menuju Cigenteng (709 mdpl 6053.274 S 108027.790E). Tak berapa lama sampai di Cigenteng yang merupakan batas tanah desa dengan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Disini terdapat pekerja yang tampaknya sedang membuat gasebo atau saung untuk tempar istirahat sejenak pendaki. Di Cigenteng terdapat pula Situs Pangeran Cakrabuana. Situs ini berupa Lingga-Yono, ada batu berdiri dan batu rebah. Namun sayang tak ada yang dapat menjelaskan ceritanya.

 IMG_8724

Tepat di batas antara tanah desa dan kawasan TNGC ada tower SUTET (Saluran Utama Tegangan Ekstra Tinggi) yang menjulang seolah mengucapkan salam “WILUJENG SUMPING” kepada para pendaki. Ada juga Pal Batas TNGC yang nomornya tidak terlihat karena terdapat bekas goresan benda tumpul. Didekatnya ada plang papan himbauan milik TNGC yang disinya berupa larangan kegiatan dalam kawasan konservasi TNGC, diantaranya berburu, berladang dll.

Dari tempat itu pula terdapat pemandangan Cadas Poleng. Amazing….. berupa dinding batu setinggi ±50 m. Nampaknya cocock untuk kegiatan panjat tebing. Namun sayang potensinya belum terjamah.

Berjalan sedikit naik ada plang Si Lutung, sebuah tempat yang banyak ditanami Pohon Pinus (Pinus merkusii). Kata Mang Deni kalau sedang beruntung kita bisa menyaksikan lutung bergelantungan di pohon-pohon pada pukul 9 pagi. Tapi saat itu saya tak menemuinya.

Sepanjang perjalanan saya terus mengobrol ngalor ngidul. Plak-plak………..

Akhirnya tiba juga di Jawangsa (781 mdpl 6053.292 S 108027.683E) . Ngos-ngosan juga nafas saya, lalu saya teguk air mineral dalam botol. Uh,,, segar.

Jawangsa merupakan areal Kemping yang kelihatannya kurang terpelihara. Disini ada pohon Lame (Alstonia scholaris [L.] R. Br) yang besar. Vegatasinya masih Pohon Pinus dan ada tanaman kopi eks penggarap yang telah ditinggalkan. Kami berhenti sejenak disini sambil menghisap sebatang rokok.

KI LEBE dan KI KUWU

Perjalanan dilanjutkan dan sampailah di Situs Ki Lebe (801 mdpl 6053.290S 108027.619E). Disini terdapat situs berupa batu di kelilingi oleh pagar besi. Sepertinya tempat ini memang dirawat oleh penjaganya. Tak jauh dari situ terdapat pula Ki KUWU (829 mdpl 6053.283S 108027.519E) yang merupakan situs berupa mata air. Mata air Ki Kuwu dimanfaatkan oleh masyarakat desa linggasana melalui program PAMSIMAS.

Mata air Ki Kuwu memang jernih dan terpelihara keasriannya.

Kami terus berjalan. Jalan semakin menanjak. Dan saya kembali ngos-ngosan hehe… rupanya inilah Tanjakan Jeunjing. Patas namanya saja tanjakan. Saya sampai berhenti 2 kali.

Lewat sudah Tanjakan Jeunjing, kemudian saya menjumpai dataran (938 mpdl 6053.393S 108027.366E). Di dataran ini kami menyaksikan pemandangan Cilimus dan sekitarnya. Sungguh indah…

Ternyata disini bisa menyaksikan sunrise disini. Kami beristirahat disini sambil menikmati keindahan pemandangan. Sungguh indah, sejuk, hening.

Sekitar 30 menit kemudian kami pun turun. Rupanya waktu turun sangatlah singkat hanya memakan waktu 15 menit.

CATATAN

Desa Linggasana memilki potensi wisata alam yang cukup menjanjikan. Hal ini membutuhkan sentuhan tangan-tangan ahli untuk mengembangkannya.

 
IMG_8789

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: