MONITORING SUMBERDAYA AIR DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI

OLEH PEH BALAI TNGC

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.      Latar Belakang

Salah satu jasa lingkungan terpenting dari kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) adalah air, yang merupakan output dari fungsi ekologi kawasan dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat sekitarnya.  Air di kawasan TNGC berguna langsung sebagai air konsumsi dan keperluan rumah tangga serta menghasilkan barang dan jasa dalam bentuk industri air bersih yang dikelola secara komersial oleh beberapa badan usaha di daerah sekitar kawasan.

Pemanfaatan air di kawasan TNGC perlu mendapat perhatian karena hal ini merupakan “core bussines” kawasan selain wisata dan panas bumi dan menyangkut hajat hidup masyarakat luas. Potensi sumber mata air yang ada di kawasan TNGC menjadikan gunung ciremai sebagai salah satu “menara air” yang potensial di Jawa Barat. Fungsi hidrologis kawasan sebagai suplai air bersih dan pengatur tata air bagai masyarakat di 5 wilayah administratif yaitu Kuningan, Majalengka, Cirebon, Indramayu, dan  Brebes.

Seiring dengan meningkatnya pertambahan penduduk dan berbagai jenis usaha masyarakat disekitar kawasan konservasi maka pemanfaatan air dari dalam kawasan cenderung meningkat, seperti halnya di sekitar kawasan TNGC. Berkenaan dengan semakin berkembangnya model pemanfaatan air di kawasan konservasi tersebut maka diterbitkan Peraturan Menteri Kehutanan No. 64/Menhut-II/2013 tentang Pemanfaatan Air dan Energi Air di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. Salah satu amanat peraturan tersebut adalah tersedianya data sumber air di dalam kawasan baik yang sudah dimanfaatkan ataupun belum, dan data tersebut harus di monitoring secara periodik. Untuk itu sebagai tindak lanjut dari kegiatan monitoring sumber air sebelumnya dan menjalankan amanat peraturan di atas, maka tahun ini dilakukan kegiatan monitoring potensi sumberdaya air lingkup kawasan TNGC.

1.2.  Maksud dan Tujuan

Maksud pelaksanaan kegiatan ini adalah monitoring dan updating potensi sumberdaya air di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yang dimanfaatkan oleh masyarakat maupun oleh pihak lain. Sedangkan tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah mengukur data debit air dikawasan Taman Nasional Gunung Ciremai serta updating data sumber air yang belum dimonitoring pada tahun sebelumnya.

 

1.3. Sasaran, Output dan Outcome

Sasaran kegiatan ini adalahpotensi sumber air di dalam kawasan TNGC dan sumber air baru yang belum dimonitoring pada tahun sebelumnya. Output fisik dari kegiatan ini adalah terkumpulnya data-data potensi sumber air di dalam kawasan TNGC. Sedangkan outcome dari kegiatan ini adalah pemanfaatan air yang optimal sesuai dengan kapasitas ekologis kawasan TNGC.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Jasa Lingkungan Air

Pengertian jasa lingkungan adalah keseluhan konsep system alam yang menyediakan barang dan jasa yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan. Jasa lingkungan ini dihasilkan dari proses alam yang bekerja dalam ekosistem tertentu dan memberikan hasil berupa fungsi ekologi yang bermanfaat bagi makhluk hidup baik tumbuhan, hewan dan manusia. Penyedia jasa lingkungan yang paling produktif adalah hutan sebagai satu kesatuan ekosistem alam yang menghasilkan berbagai produk kayu dan non kayu serta manfaatnya sebagai penjaga siklus serta distribusi air di bumi. Kecenderungannya hutan-hutan penyedia jasa lingkungan adalah kawasan konservasi yang memeiliki ekosistem alam utuh dan beragam dibandingkan dengan hutan untuk penggunaan lain (Haryanto, 2012).

Menurut Wunder (2005), produk jasa lingkungan hutan atau kawasan konservasi umumnya dibagi dalam 4 kategori yaitu :

1). Penyerap dan penyimpan carbon (carbon sequestration and storage);

2). Perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversity protection);

3). Perlindungan daerah aliran sungai (watershed protection);

4). Keindahan bentang alam (landscape beauty);           

Dalam konteks jasa lingkungan air, hutan (khususnya kawasan konservasi) menyediakan ekosistem alam untuk : memperbaiki kualitas air dengan mengurangi sedimentasi dan erosi; mengatur aliran dan supplay air melalui kemampuan penyerapan, mengisi air bawah tanah dan menyimpannya; mencegah dan mengurangi bencana akibat air seperti banjir; menahan air hujan pada sistem pengakaran selama musim hujan dan secara perlahan melepaskan air selama musim kemarau (ESP-USAID, 2006). Jasa lingkungan air banyak dijadikan alasan utama ataupun dasar pertimbangan dalam upaya konservasi atau pelestarian alam. Sepertihalnya beberapa contoh yaitu: 1). Gunung Pangrango sebagai cagar biosfer untuk melindungi daerah tangkapan dan supply air untuk wilayah Jakarta, Bogor, Puncak, Sukabumi dan Cianjur, dan 2). Alih fungsi kawasan Gunung Ciremai menjadi taman nasional adalah pertimbangan fungsi ekologis kawasan yang merupakan daerah resapan air dengan produktifitas yang sangat tinggi untuk supply air di daerah Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka dan Brebes.

2.2.                 Peraturan Pemanfaatan air di kawasan konservasi           

Perkembangan pemanfaatan air di kawasan konservasi cenderung meningkat dalam kurun waktu 5 – 6 tahun terakhir, meskipun belum ada peraturan perundangan yang mengatur. Bahkan, Kementerian Kehutanan, saat itu Departemen Kehutanan, belum betul-betul sigap dalam menyikapinya, meskipun telah diberikan ruang oleh UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Selama tahun 2008 hingga 2012, pelayanan pemanfaatan jasa lingkungan air di kawasan konservasi hanya diakomodir melalui mekanisme kerjasama. Ini diatur melalui Surat Edaran Dirjen PHKA No. SE.3/IV-Set/2008 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air di Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Taman Buru.

Selanjutnya melihat trend  dan permintaan pemanfaatan air di kawasan konservasi semakin meningkat maka diwujudkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Apabila kita menilik Pasal 40 ayat 2, jelas sekali diamanatkan bahwa pemanfaatan air dan energi air diatur melalui peraturan yang lebih operasional, yaitu peraturan Menteri. Namun demikian peraturan tersebut di atas dirasa belum optimal mengatisipasi permasalahan teknis dalam pemanfaatan air di kawasan konservasi terkait kriteria dan indikator pemanfaatan air serta mekanisme kewajiban yang dibebankan pada pemanfaat.

Dalam perkembangannya, Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2011 kemudian diterjemahkan kedalam peraturan yang lebih operasional dan implementatif, yaitu Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.64/Menhut-II/2013 tentang Pemanfaatan Air dan Energi Air di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam yang ditetapkan pada tanggal 3 Desember 2013. Peraturan tersebut merupakan jawaban yang selama sembilan tahun ini ditunggu, terutama sejak lahirnya UU No. 7 tahun 2004. Dalam Pasal 25 Ayat 2 UU No. 7 tahun 2004 diamanatkan bahwa pengaturan konservasi sumber daya air yang berada di dalam kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan hutan diatur tersendiri.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.64/Menhut-II/2013 tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui Surat Edaran Dirjen PHKA Nomor SE. 01/IV-PJLKKHL/2014 tentang Izin Pemanfaatan Air (IPA) dan Izin Pemanfaatan Energi Air (IPEA), serta Pertimbangan Teknis untuk Permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Air (IUPA) dan Izin Usaha Pemanfaatan Energi Air (IUPEA) di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. Untuk itu dengan terbitnya kedua peraturan di atas, maka mekanisme operasional serta implementatif pemanfaatan air di kawasan konservasi dapat segera diwujudkan.

2.3.                 Pengukuran potensi sumberdaya air

Ada beberapa metode dalam pengukuran debit air suatu sungai atau sumber air di dalam kawasan, mulai dari metode yang cukup sederhana (menggunakan alat-alat sederhana) sampai dengan menggunakan metode yang cukup rumit dan mahal (menggunakan alat manual dan automatik).

Bagi petugas di lapangan (petugas resort/pejabat fungsional), metode pengukuran debit air secara sederhana dapat membantu mempermudah pengambilan data debit air suatu sumber mata air yang ada di dalam kawasan. Karena seperti diketahui bersama, terkadang petugas lapangan tidak cukup dilengkapi dengan alat-alat pengukuran debit air. Akan tetapi dengan segala keterbatasan tersebut petugas lapangan tetap dapat melakukan pengukuran dan data tersebut tetap valid. Berikut ini uraian metode pengukuran secara secara sederhana beserta cara perhitungannya :

  • Pengukuran debit air dengan Metode Tampung

Metoda ini dilakukan untuk pengukuran sumber mata air yang tidak menyebar dan bisa dibentuk menjadi sebuah terjunan (pancuran).Alat yang diperlukan dalam pengukuran debit dengan metoda ini:

  1. Alat tampung dapat menggunakan botol air mineral untuk volume 1,5 liter atau alat tampung lain seperti ember/baskom yang telah diketahui volumenya.
  2. Stop watch atau alat ukur waktu yang lain (arloji/handphone) yang dilengkapi dengan stop watch.
  3. Alat tulis untuk mencatat hasil pengukuran yang dilakukan.

Langkah-langkah pelaksanaan pengukuran dengan metoda ini adalah:

  1. Siapkan alat tampung yang sudah diketahui volumenya.
  2. Bentuk aliran sebagai pancuran atau terjunan (untuk memudahkan pengukuran, aliran air sumber dapat dibendung kemudian aliran air disalurkan menggunakan bambu, potongan pipa, dll).
  3. Diperlukan 3 (tiga) orang untuk melakukan pengukuran. Satu orang untuk memegang alat tamping, satu orang bertugas mengoperasikan stop watch, dan orang ketiga melakukan pencatatan.
  4. Proses dimulai dengan aba-aba dari orang pemegang stop watch pada saat penampungan air dimulai, dan selesai ketika alat tampung sudah terisi penuh. Waktu yang diperlukan mulai dari awal penampungan air sampai terisi penuh dicatat (T) dalam form pengukuran. Pengukuran dilakukan 5(lima) kali (untuk mengoreksi hasil pengukuran), dan hasil pengukuran dirata-ratakan untuk mendapatkan nila T rata-rata.Waktu rata-rata merupakan hasil pembagian antara Jumlah total waktu pengukuran dengan jumlah pengulangan pengukuran.

                      S Waktu

T rata-rata = ——–

                    n

          dimana :

T rata-rata = Waktu rata-rata (detik)

S Waktu     = Total Waktu Pengukuran

n               = Pengulangan Pengukuran

Debit air (Q) merupakan hasil perkalian antara luas penampang (A) saluran/aliran  dengan kecepatan (v) aliran air.

                     Q= A.V

dimana:

Q = Debit aliran (m3/detik)

A = Luas penampang saluran (m2)

V = Kecepatan aliran air (m/detik)

  • Pengukuran debit air dengan Metoda Apung

Metoda ini menggunakan alat bantu suatu benda ringan (terapung) untuk mengetahui kecepatan air yang diukur dalam satu aliran terbuka.  Biasanya dilakukan pada sumber air yang membentuk aliran yang seragam (uniform).  Pengukuran dilakukan oleh 3(tiga) orang yang masing- masing bertugas sebagai pelepas pengapung di titik awal, pengamat di titik akhir lintasan dan pencatat waktu perjalanan alat pengapung dari awal sampai titik akhir.

Pengukuran dilakukan dengan cara menghanyutkan benda terapung dari suatu titik tertentu (start) kemudian dibiarkan mengalir mengikuti kecepatan aliran sampai batas titik tertentu (finish), sehingga diketahui waktu tempuh yang diperlukan benda terapung tersebut pada bentang jarak yang ditentukan tersebut.

Alat-alat yang diperlukan dalam pengukuran debit air dengan Metoda Apung:

  1. Bola pingpong atau bisa diganti dengan benda lain yang ringan (gabus, kayu kering, dll)
  2. Stop watch atau alat ukur waktu yang lain (arloji/hand phone) yang dilengkapi dengan stop watch
  3. Alat ukur panjang (meteran atau tali plastic yang kemudian diukur panjangnya dengan meteran).

Langkah-langkah pelaksanaan pengukuran dengan metoda ini adalah:

  1. Pilih bagian aliran yang tenang dan seragam, hindari aliran yang memiliki pusaran air.
  2. Tentukan dulu panjang saluran/lintasan (P) sungainya dan batasi titik awal (start) dan akhirnya (finish). (catat dalam form pengukuran).
  3. Bersihkan bagian aliran tersebut dan bentuklah menjadi aliran yang lurus dengan penampang aliran yang memiliki kedalaman yang relatif sama .
  4. Bagilah panjang saluran/lintasan menjadi beberapa bagian (misal 5 bagian/titik), ukur lebar sungai (L) pada titik-titik tersebut; dan ukur juga kedalamannya (H) pada bagian tepi kanan, tepi kiri dan tengah aliran. Kemudian hitung masing-masing rata-ratanya. (catat dalam formulir pengukuran)
  5. Hitung luas penampang (A) rata-rata seperti dalam formulir pengukuran.
  6. Gunakan benda apung (bola pingpong, kayu kering, gabus, dll) yang dapat mengalir mengikuti aliran air dan tidak terpengaruh angin.
  7. Lepaskan benda terapung pada titik awal lintasan (start) bersamaan dengan menekan stop watch (tanda start) dan tekan kembali stop watch (tanda stop) pada titik akhir lintasan (finish) dan hitung waktunya (T).
  8. Ulangi pengukuran waktu tempuh 5 kali ulangan.
  9. Catat waktu tempuh benda apung dan hitung waktu rata-ratanya.
  10. Hitung kecepatannya (V) menggunakan variabel luas penampang rata-rata (A) dan waktu rata-rata (T) sesuai rumus.
  11. Hitung Debit air (Q) yang mengalirnya sesuai rumus

Luas penampang (A) merupakan hasil perkalian antara Lebar rata-rata (L) saluran/aliran  dengan Kedalaman rata-rata (H) saluran/aliran air.

A = L rata-rata x H rata-rata

dimana :

A               = Luas Penampang (m2)

L rata-rata = Lebar rata-rata (meter)

H rata-rata = Kedalaman rata-rata (meter)

Panjang saluran/lintasan pengukuran (P) = — meter (Panjang lintasan harus tetap)

Kecepatan (v) adalah hasil pembagian antara panjang saluran/aliran (P) dibagi dengan waktu rata-rata (T rata-rata).

  P

V =  ————

      T rata-rata

dimana :

V = Kecepatan (meter/detik)

P = Panjang saluran (meter)

T rata-rata = Waktu rata-rata (detik)

Debit air (Q) merupakan hasil perkalian antara luas penampang (A) saluran/aliran dengan kecepatan (v) aliran air.

                 Q = A.V

dimana:

Q = Debit aliran (m3/detik)

A = Luas penampang saluran (m2)

V = Kecepatan aliran air (m/detik)

Konversi satuan :1 M3 = 1000 Liter

1 Liter = 0,001 M3

Contoh : 0,632 M3/detik = 632 Liter/detik

BAB III

PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1.  Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatanmonitoringpotensi sumberdaya air dilaksanakan secara menyeluruh di 11 (sebelas) resort wilayah di SPTN I dan II oleh staf Balai TNGC sesuai SPT (terlampir) dengan tatawaktu pelaksanaan sebagai berikut :

Tabel 1. Lokasi Kegiatan Monitoring SDA Tahun 2016

No.

Wilayah

Tata Waktu

Sumber Mata Air

I.

SPTN Wilayah I Kuningan

1.

Resort Pasawahan 22 – 23 April  2016
  1. Cipujangga
  2. Paniis
  3. Huludayeuh
  4. Talagabogo
  5. Talaganilem
  6. Cicerem
  7. Talagadeleg
  8. Cisamaya
  9. Talagaremis
  10. Cigimpur
  11. Cileutik
  12. Cibolerang
  13. Cikajayaan
  14. Cibuluh I
  15. Cikole
  16. Singkup
  17. Cikole
  18. Cipari

2.

Resort Mandirancan 20 – 21 April  2016
  1. Ciayakan
  2. Cigorowong
  3. Cimanggu
  4. Ninikadrem
  5. Panandaan
  6. Sigedong
  7. Cibulakan
  8. Curugtajug

3.

Resort Cilimus 22 – 23 April  2016
  1. Manggong
  2. Cigintung
  3. Curugceret
  4. Cikacu
  5. Kikuwu
  6. Cikuda
  7. Cibunar
  8. Ciawi
  9. Ciwaruling
  10. Cibeureum

4.

Resort Jalaksana 20 – 21 April  2016
  1. Cimancenghulu
  2. Cengalin/balongdalem
  3. Lembahcilengkrang
  4. Kopi sereh
  5. Blok salam
  6. Blok sumur
  7. Cibalukbuk
  8. Cibulan

5.

Resort Cigugur 22 – 23 April  2016
  1. Kopi bojong
  2. Curugmangkok
  3. Curugputri
  4. Balongcigugur
  5. Kopi cigugur
  6. Kopi padarek

 

  1. Talagasurian
  2. Ceweranda
  3. Cibunian

10. Curug mangkok

6.

Resort Darma 20 – 21 April  2016
  1. Blok Jica
  2. Citampian
  3. HuluCaiCiacra
  4. Palasari
  5. Lamping pasang

    II. SPTN Wilayah II Majalengka

7.

Resort Bantaragung 25 – 26 April  2016
  1. Cipeutey
  2. Cirancak
  3. Cirumput
  4. Ciwaringin
  5. Ciwaru I
  6. Gununglarang
  7. Padaherang
  8. blokleles
  9. Awilega
  10. Cikadondong
  11. Situhiang

8.

Resort Gunungwangi 20 – 21 April  2016
  1. Sangiangkendi
  2. Begog
  3. Cigaruguy
  4. Cigimpur I
  5. Cigimpur II
  6. Cikarikil
  7. Cikeruh
  8. Cibiuk/cilame
  9. Gn. Aseupan I
  10. Gn. Aseupan II
  11. Genden
  12. Cipada II
  13. Legok Bora

9.

Resort Argalingga 22 – 23 April  2016
  1. Cipada I
  2. Cipanteun

10.

Resort Argamukti 20 – 21  April  2016
  1. Cilongkrang
  2. Cisalam
  3. Cikolomberan I
  4. Cikolomberan II

11.

Resort Sangiang 22 – 23 April  2016
  1. Caruy
  2. Cideres
  3. GunungPutri I
  4. GunungPutri II
  5. Sawijan

 

3.2.  Metode Pelaksanaan

Pengukuran debit air menggunakan metode apung dengan alat bantu bola pingponguntuk mengetahui kecepatan air yang diukur dalam satu aliran terbuka.  Pengukuran dilakukan oleh 3 (tiga) orang yang masing- masing bertugas sebagai pelepas pengapung di titik awal, pengamat di titik akhir lintasan dan pencatat waktu perjalanan alat pengapung dari awal sampai titik akhir. Pengukuran dilakukan dengan cara menghanyutkan bola pingpong  dari suatu titik tertentu (start) kemudian dibiarkan mengalir mengikuti kecepatan aliran sampai batas titik tertentu (finish) kemudian dicatat waktu tempuhnya.

Peralatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut :

  1. Bola pingpong sebagai alat bantu terapung untuk mengukur kecepatan air.
  2. Stop watch sebagai alat ukur waktu .
  3. Meteran dan tali plastik untuk mengukur panjang lintasan.
  4. GPS sebagai alat navigasi dan pencatat koordinat.

Langkah-langkah pelaksanaan pengukuran dengan metoda ini adalah:

  1. Menentukan panjang saluran/lintasan (P) sungainya dan batasi titik awal (start) dan akhirnya (finish).
  2. Membagi panjang saluran/lintasan menjadi beberapa bagian (misal 5 bagian/titik), mengukur lebar sungai (L) pada titik-titik tersebut; dan mengukur kedalamannya (H) pada bagian tepi kanan, tepi kiri dan tengah aliran.
  3. Menghitung luas penampang (A) rata-rata seperti dalam formulir pengukuran.
  4. Menghanyutkan bola pingpong untuk mengkur kecepatan aliran air.
  5. Mencatat waktu tempuh dengan 10 kali ulangan.
  6. Menghitung kecepatan (V) menggunakan variabel luas penampang rata-rata (A) dan waktu rata-rata (T) sesuai rumus.
  7. Menghitung Debit air (Q) yang mengalirnya sesuai rumus

Luas penampang (A) merupakan hasil perkalian antara Lebar rata-rata (L) saluran/aliran  dengan Kedalaman rata-rata (H) saluran/aliran air.

A = L rata-rata x H rata-rata

dimana :

A               = Luas Penampang (m2)

L rata-rata = Lebar rata-rata (meter)

H rata-rata = Kedalaman rata-rata (meter)

 

Kecepatan (v) adalah hasil pembagian antara panjang saluran/aliran (P) dibagi dengan waktu rata-rata (T rata-rata).

  P

V =  ————

      T rata-rata

dimana :

V = Kecepatan (meter/detik)

P = Panjang saluran/lintasan harus tetap (meter)

T rata-rata = Waktu rata-rata (detik)

Debit air (Q) merupakan hasil perkalian antara luas penampang (A) saluran/aliran  dengan kecepatan (v) aliran air.

                 Q = A.V

 

 

dimana:

Q = Debit aliran (m3/detik)

A = Luas penampang saluran (m2)

V = Kecepatan aliran air (m/detik)

 

BAB IV

HASIL KEGIATAN

Kegiatan monitoring potensi sumberdaya air di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) tahun 2016 ini difokuskan pada sumber mata air (SMA) yang telah ditetapkan oleh Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor: SK.43/IV-SET/2015 tentang Penetapan Areal Pemanfaatan Air dan Energi Air pada Taman Nasional Gunung Ciremai; dan SMA di luar SK.43/IV-SET/2015 yang berada di dalam kawasan TNGC baik yang telah dimonitoring pada tahun-tahun sebelumnya sekaligus inventarisasi SMA baru yang belum pernah dilakukan kegiatan monitoring sebelumnya. Uraian hasil kegiatan monitoring potensi sumberdaya air tahun 2016 adalah sebagai berikut:

  1. I.      Monitoring Sumber Mata Air Berdasarkan SK Dirjen PHKANomor: SK.43/IV-SET/2015

Sumber mata air sesuai dengan SK.43/IV-SET/2015 berjumlah total 106 sumber air yang tersebar di wilayah SPTN Wilayah I Kuningan sebanyak 68 lokasi dan di SPTN Wilyah II Majalengka sebanyak 38 lokasi sumber air.Sebagian besar lokasi sumber air berada pada zona pemanfaatan TNGC (99 sumber air) dan lainnya berada pada zona Religi, Budaya dan Sejarah (7 lokasi di SPTN Wilayah I Kuningan).Hasil monitoring pada lokasi-lokasi sumber air tersebut ditujukan pada Tabel berikut ini:

Tabel 2. Hasil Monitoring Debit Air pada SMA sesuai SK.43/IV-SET/2015

NO

Sumber Mata Air (SMA)

Zona

Resort

DEBIT AIR (liter/detik)

Keterangan

A

SPTN Wilayah I Kuningan

1

Curug Tajug

Pemanfaatan

Pasawahan

21,41

2

Cipari

Pemanfaatan

Pasawahan

147,51

3

Cipujangga

Pemanfaatan

Pasawahan

183,00

4

Paniis

Pemanfaatan

Pasawahan

450,91

5

Hulu dayeuh

Pemanfaatan

Pasawahan

0,88

6

Telaga Bogo

Pemanfaatan

Pasawahan

3,5

7

Telaga Nilem

Pemanfaatan

Pasawahan

151,32

8

Telaga remis

Pemanfaatan

Pasawahan

488,14

9

Ciceureum

Pemanfaatan

Pasawahan

321,43

10

Cileutik

Pemanfaatan

Pasawahan

0

Berada di luar kawasan

11

Cibuluh

Pemanfaatan

Pasawahan

41,19

12

Cibolerang

Pemanfaatan

Pasawahan

81.33

13

Telaga Deleg

Pemanfaatan

Pasawahan

0

Kering

14

Cigoong

Pemanfaatan

Pasawahan

0

Berupa pipa 4 inci tertutup sehingga tidak dapat dilakukan pengukuran

15

Cigimpur

Pemanfaatan

Pasawahan

157,38

16

Batu arca

Pemanfaatan

Pasawahan

2,70

17

Situ Tespong

Pemanfaatan

Pasawahan

0,00

Sumber air berada di luar kawasan

18

Sibubur

Pemanfaatan

Pasawahan

11,61

19

Cisamaya

Pemanfaatan

Pasawahan

251,52

20

Cikole

Pemanfaatan

Pasawahan

116,78

21

Gajah Nunggal

Religi, Budaya dan Sejarah

Pasawahan

0

Pipa tertutup, tidak dapat dilakukan pengukuran

22

Gajah Putih

Religi, Budaya dan Sejarah

Pasawahan

0

Berada pada satu kompleks areal dengan satu sumber mata air Cikajayaan

23

Cikajayaan

Religi, Budaya dan Sejarah

Pasawahan

120,22

24

Gajah Jambrong

Religi, Budaya dan Sejarah

Pasawahan

0

25

Kemis

Religi, Budaya dan Sejarah

Pasawahan

0

26

Telaga Pancar

Religi, Budaya dan Sejarah

Pasawahan

59,41

27

Curug Gongseng

Pemanfaatan

Pasawahan

0

Berada di luar kawasan (Cibuntu)

28

Ciayakan

Pemanfaatan

Mandirancan

0

Saluran dari MA. Ciayakan dan MA. Panandaan menjadi satu dgn aliran dari MA. Cigorowong

29

Cibulakan

Pemanfaatan

Mandirancan

57,09

30

Cigorowong

Pemanfaatan

Mandirancan

338,09

31

Sigedong

Pemanfaatan

Mandirancan

9,3

32

Kikuwu

Pemanfaatan

Cilimus

15,5

33

Manggong

Pemanfaatan

Cilimus

53,32

34

Cibeureum

Pemanfaatan

Cilimus

75,34

35

Cikuda

Pemanfaatan

Cilimus

113,79

36

Cigintung

Pemanfaatan

Cilimus

0

Berada di luar kawasan

37

Curug Ceret

Pemanfaatan

Cilimus

207,97

38

Hulu Ciawi

Pemanfaatan

Cilimus

22,50

39

Cikacu

Pemanfaatan

Cilimus

75,00

40

Ciwaruling

Pemanfaatan

Cilimus

0

Hilang karena longsor

41

Cibunar

Pemanfaatan

Cilimus

21,01

42

Kopi Bojong

Pemanfaatan

Jalaksana

118,06

Lokasi mata air secara administrasi termasuk wilayah Cigugur

43

Kopi Cigugur

Pemanfaatan

Jalaksana

2,97

44

Cimanceung Hulu

Pemanfaatan

Jalaksana

205,00

Merupakan satu aliran dan satu sumber mata air dari Cimanceung

45

Cimanceung Hilir

Pemanfaatan

Jalaksana

46

Kopi Sereh

Pemanfaatan

Jalaksana

0

Kering

47

Ceng Alin

Pemanfaatan

Jalaksana

240,96

Nama lain Balong Dalam

48

Blok Salam

Pemanfaatan

Jalaksana

13,08

Nama lain Saladaher

49

Sumur Galing

Pemanfaatan

Jalaksana

9,76

50

Cadas Belang

Pemanfaatan

Jalaksana

37,93

51

Cibalukbuk

Pemanfaatan

Jalaksana

2,25

52

Situ Sumur 7

Religi, Budaya dan Sejarah

Jalaksana

210,33

berada dalam satu areal obyek wisata Cibulan

53

Situ Batu Gajah

Pemanfaatan

Jalaksana

49,02

54

Lembah Cilengkrang

Pemanfaatan

Jalaksana

310,64

Cilengkrang I dan II

55

Saladaher

Pemanfaatan

Jalaksana

0

nama lain dari mata air Blok Salam

56

Hulu Cigugur

Pemanfaatan

Jalaksana

97,94

57

Talaga Surian

Pemanfaatan

Cigugur

14,00

belum ada data

58

Cewe Randa

Pemanfaatan

Cigugur

43,85

59

Cibunian

Pemanfaatan

Cigugur

75,36

60

Curug Mangkuk

Pemanfaatan

Cigugur

487,31

61

Kopi Paderek

Pemanfaatan

Cigugur

27,4

nama lain Silutung/ Cisurian

62

Curug Putri

Pemanfaatan

Cigugur

0,00

Satu aliran dengan curug mangkuk

63

Cigowong

Pemanfaatan

Cigugur

92,99

sungai

64

Gunung Cikanaga

Pemanfaatan

Cigugur

46,12

65

Citampian

Pemanfaatan

Darma

15,73

nama lain Cigunung

66

Hulu cai ciacra

Pemanfaatan

Darma

50,2

67

Palasari

Pemanfaatan

Darma

40,09

68

Lamping pasang

Pemanfaatan

Darma

70,69

TOTAL DEBIT KUNINGAN (L/dtk)

5.860,83

B

SPTN Wilayah I Majalengka

69

Leles

Pemanfaatan

Bantaragung

158,81

nama mata air adalah Cimanggung

70

Cipeuteuy

Pemanfaatan

Bantaragung

2,54

71

Cirumput

Pemanfaatan

Bantaragung

253,63

72

Ciwaringin

Pemanfaatan

Bantaragung

201,11

73

Ciwaru

Pemanfaatan

Bantaragung

480,56

nama lain Batu Badak

74

Gunung Larang

Pemanfaatan

Bantaragung

6,67

75

Cikadondong

Pemanfaatan

Bantaragung

83,33

76

Situhiang

Pemanfaatan

Bantaragung

17,5

77

Awi Lega

Pemanfaatan

Bantaragung

3,53

nama lain Ciawi Lega

78

Panyusupan

Pemanfaatan

Bantaragung

0

kering

79

Cibonteng

Pemanfaatan

Bantaragung

241,38

nama lain Ciwaru 2

80

Kalipa

Pemanfaatan

Bantaragung

3,19

belum ada data

81

Lingga

Pemanfaatan

Bantaragung

3,3

belum ada data

82

Ciwaru 2

Pemanfaatan

Bantaragung

0

nama lain Cibonteng (satu aliran air)

83

Cikeruh

Pemanfaatan

Gunung Wangi

0

Berupa sungai besar

84

Curug Sawer

Pemanfaatan

Gunung Wangi

0

Satu aliran dari mata air Cipada

85

Legok Gorah

Pemanfaatan

Gunung Wangi

16,07

86

Sangiang Kendi

Pemanfaatan

Gunung Wangi

59,54

87

Begog

Pemanfaatan

Gunung Wangi

6,82

88

Cigimpur

Pemanfaatan

Gunung Wangi

181,13

89

Cikarikil

Pemanfaatan

Gunung Wangi

10,38

90

Cilame/Cibiuk

Pemanfaatan

Gunung Wangi

12,91

91

Gunung Aseupan

Pemanfaatan

Gunung Wangi

11,02

92

Genden

Pemanfaatan

Gunung Wangi

16,48

93

Panten Kaler

Pemanfaatan

Argalingga

168,79

Merupakan satu aliran dan satu sumber mata air dari Cipanteun

94

Panten Kidul

Pemanfaatan

Argalingga

95

Cipada Kidul

Pemanfaatan

Argalingga

93,91

96

Cipada Kaler

Pemanfaatan

Argalingga

42,82

97

Cilongkrang

Pemanfaatan

Argamukti

244,50

98

Cisalam

Pemanfaatan

Argamukti

17,40

berada di blok Cibuluh

99

Cikolomberan

Pemanfaatan

Argamukti

355,68

100

Caruy

Pemanfaatan

Sangiang

4,83

101

Cideres

Pemanfaatan

Sangiang

99,71

102

Cibuluh (Cisalam)

Pemanfaatan

Sangiang

0

lokasi tidak ditemukan mata air

103

Gunung Putri

Pemanfaatan

Sangiang

163,9

Gabungan dari sumber air Gunung Putri I (58,3 L/dtk) dan II (105,6 L/dtk)

104

Sawijah

Pemanfaatan

Sangiang

1,94

105

Situ Sangiang

Pemanfaatan

Sangiang

0

lokasi tidak memungkinkan dilakukan pengukuran langsung di lapangan

106

Cerem

Pemanfaatan

Sangiang

2,2

TOTAL DEBIT MAJALENGKA (L/dtk)

2.965,576

TOTAL DEBIT (L/dtk)

8.826,40

Sumber: Olah data primer (2016)

Berdasarkan hasil seperti tercantum pada tabel 2, menunjukkan jumlah sumber air di kawasan TNGC yang masih dapat dimonitoring dan dilakukan pengukuran debit air berjumlah 85 lokasi dengan total debit sebesar 8.826,40Liter/detik. Sedangkan lokasinya lainnya sebanyak 21 lokasi tidak dapat dimonitoring atau dilakukan pengukuran debit air disebabkan faktor-faktor antara lainsebagai berikut:

1)    Sumber air telah kering, yaitu SMA Telaga Deleg (R. Pasawahan), SMA Kopi Sereh (R. Jalaksana), dan SMA Panyusupan (R. Bantaragung).

2)    Lokasi keluarnya sumber mata air (hulu) berada di luar kawasan TNGC, yaitu SMA Cileutik, SMA Situ Tespong dan SMA Curug Gongseng, seluruhnya berada di resort Pasawahan, dan SMA Cigintung di Resort Cilimus, SPTN Wilayah I Kuningan.

3)    Lokasi telah hilang karena longsor yaitu SMA Ciwaruling di Resort Cilimus SPTN Wilayah I Kuningan.

4)    Sumber air telah dipasangi pipa tertutup sehingga tidak dapat dilakukan pengukuran debit air, yaitu SMA Cigoong dan SMA Gajah Nunggal di Resort Pasawahan. Namun kedua lokasi ini masih potensial dimanfaatkan.

5)    Beberapa SMA merupakan satu aliran atau satu sumber air yang sama, yaitu:

–       SMA Gajah Putih, SMA Gajah Jambrong dan SMA Kemis di Resort Pasawahan, berada pada satu kompleks areal dan berasal dari satu sumber mata air Cikajayaan;

–       SMA Ciayakan satu mata aliran dengan SMA Cigorowong (Resort Mandirancan);

–       SMA Saladaher merupakan nama lain dari SMA Blok Salam (Resort Jalaksana);

–       SMA Curug Putri satu aliran dengan SMA Curug Mangkuk (resort Cigugur);

–       SMA Ciwaru 2 satu aliran dengan SMA Cibonteng (Resort Bantaragung);

–       SMA Curug Sawer satu mata air dengan SMA Cipada (Resort Gunung Wangi).

6)    Lokasi tidak ditemukan mata air, yaitu SMA Cibuluh (Cisalam) di Resort Sangiang

7)    Sumber air berada di lokasi yang memiliki topografi terjal/curam sehingga sulit dilakukan pengukuran debit air secara langsung di lapangan, yaitu SMA Situ Sangiang di resort Sangiang.

8)    Lokasi berupa sungai berukuran besar, yaitu Cikeruh di Resort Gunung Wangi.

Selain itu, terdapat lokasi sumber air yang pada SK tercatat 2 (dua) lokasi namun sebenarnya merupakan satu lokasi atau satu aliran sumber air, yaitu:

1)    SMA Cimanceung Hulu dan SMA Cimanceung Hilir merupakan satu aliran dan satu sumber air dari Cimanceung

2)    SMA Panten Kaler dan SMA Panten Kidul merupakan satu aliran dan satu sumber mata air dari Cipanteun.

Berdasarkan hasil pengukuran debit air, diperoleh total debit untuk wilayah SPTN Wilayah I Kuningan sebesar 5.860,83Liter/detik dengan lokasi yang memiliki debit terbesar adalah pada SMA Telaga Remis di Resort Pasawahan (488,14 L/dtk) dan lokasi dengan debit terkecil adalah SMA Cibalukbuk di Resort Jalaksana (2,25 L/dtk). Selengkapnya dapat dilihat pada grafik 1.