Kaliandra, Tumbuhan Invasif Tapi Multiguna

IMG_20180725_175111_277

Kaliandra adalah tanaman multiguna yang berasal dari Guatemala. Pohon ini memiliki banyak keunggulan. Nama asli tanaman ini adalah Xilip de Qorcolorado. Ia didatangkan pertama kali tahun 1936 dari Guatemala. Kaliandra terdapat dua jenis yang dibedakan dari bunganya yaitu kaliandra merah dan kaliandra putih.

Kaliandra merah memiliki nama ilmiah Calliandra callothyrsus Meissen. Di Negara asalanya, kaliandra merah juga memiliki beberapa julukan, diantaranya “cabello de angel” yang berarti ”rambut malaikat” dan “barbe sol” yang artinya ”jenggot matahari”. Sedangkan kaliandra putih memiliki nama ilmiah semula Calliandra tetragona, namun kemudian diganti menjadi Zapoteca tetragona.

Pada tahun 1974 Perum Perhutani menyebarkan benih ke berbagai desa di Pulau Jawa, termasuk di Gunung Ciremai. Kaliandra ditanam untuk tujuan pembatas tanaman sebagai pengganti kayu bakar (pinus).

Kaliandra adalah pohon kecil bercabang dengan ketinggian rata-rata 3-5 meter. Meskipun demikian ia bisa mencapai tinggi 12 meter dengan diameter batang bisa mencapai lebih dari 20 cm. Kulit batangnya berwarna merah atau abu-abu yang tertutup oleh lentisel kecil. Makin ke pucuk, batangnya cenderung bergerigi. Pada pohon yang batangnya berwarna coklat kemerahan, ujung batangnya bisa berulas merah.

Kaliandra merupakan spesies tanaman multiguna memiliki sifat-sifat unggul yang bermanfaat bagi manusia maupun lingkungan. Jenis ini merupakan tanaman pionir yang bisa dimanfaatkan untuk memberantas tanaman liar seperti alang-alang, tembelekan dan gelagah. Selain itu kaliandra banyak dimanfaatkan untuk menahan erosi tanah.

IMG_20180725_175647_835
Akan tetapi keberadaan kaliandra di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dianggap sebagai tanaman pengganggu karena tanaman ini bisa menginvasi (“invasif species”) tanaman asli (“endemic”) Gunung Ciremai.

PadaPada tahun 2015 telah dilakukan pemetaan keberadaan tanaman ini, dan diperoleh data bahwa penyebaran kaliandra merata di seluruh wilayah TNGC, luasnya ± 269,71 ha, tumbuh pada ketinggian 600 – 1500 mdpl. Dibandingkan dengan luasan TNGC, luas areal tanaman kaliandra baru 1,8%-nya, akan tetapi karena penyebaran merata di seluruh kawasan maka perlu diwaspadai oleh pengelola jangan sampai keberadaan keanekaragaman hayati asli TNGC tergantikan oleh kaliandra.

[Teks & Foto © Ahmad Fuad – BTNGC |072018]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: