Kisah Penjagaan Jalur Pendakian [1]

IMG_20180824_192240_656

Taman Nasional Gunung Ciremai menyajikan berbagai keindahan atau view yang sangat menarik, terlebih ketika kita berada di ujung langit di puncak Ciremai. Banyak sekali pengunjung yang datang dari penjuru negeri terutama pada hari-hari besar seperti menjelang pergantian tahun atau sekedar merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus dengan mengibarkan sang merah putih di puncak gunung. Informasi mengenai keindahan alam di puncak Ciremai ini sudah tersebar ke pelosok negeri, karena sarana informasi/ jejaring sosial yang makin canggih.

IMG-20180824-WA0001

#sobatCiremai, ketika kalian ingin mendaki ada beberapa prosedur yang harus ditempuh, diantaranya melakukan pembelian tiket masuk di setiap pos jalur pendakian, pemeriksaan perbekalan dan perlengkapan yang dibawa serta kesehatan. Bagi yang dianggap layak oleh petugas dan mitra pengelola pendakian maka dipersilahkan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tujuannya adalah demi keselamatan para pendaki itu sendiri.

Jalur pendakian di TNGC ada empat yaitu jalur Palutungan, Linggajati, Linggasana dan Apuy. Di antara empat jalur pendakian tersebut, ada juga jalur yang tidak resmi (ilegal) yang kerap kali dilewati pendaki yang tidak bertanggung jawab yaitu Sadarehe. Dalam rangka pelayanan, Balai TNGC menugaskan stafnya untuk mengawal para pendaki di setiap jalur pendakian, terhitung mulai tanggal 15 sampai dengan 18 Agustus 2018.

Kisah suka, duka, lucu dan mencengangkan pun dirasakan para petugas yang berjaga. Seperti yang ditemui di blok Sadarehe. Ditemukan pendaki yang jumlahnya tidak sedikit melalui jalur ini, mereka tidak pikir panjang akan keselamatan dirinya. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar SMP, dengan modal nekat dan peralatan seadanya. Ketika kami tanya alasannya kenapa memilih jalur yang tidak resmi, karena tidak memiliki biaya untuk membeli tiket.

Padahal kalau terjadi apa-apa, materi yang dikeluarkan akan melebihi nominal tiket yang dikenakan. Nominal tiket yang dibebankan kepada pendaki akan balik untuk pendaki itu sendiri karena ada beberapa pelayanan yang diberikan mitra pengelola pendakian, diantaranya makan dan tempat istirahat. Bahkan  ketika kami periksa perbekalannya pun sangat minim. Tidak dilengkapi dengan perlengkapan pelindung badan (body safety) seperti tenda, matras, sleeping bag, dll, padahal cuaca di puncak gunung tidak dapat ditebak. . .(bersambung)

Nantikan kelanjutannya yah

[Teks © Yaya Sutirya – BTNGC & Lili Suryadi – BTNGC ; Foto © awan Suwandi – BTNGC | 082018]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: