Koperasi Agung Lestari, Pemenang Pertama Desa Binaan Terbaik HKAN 2018

IMG_20180826_135606_965

Hari Konservasi Alam Nasional HKAN Tahun 2018 akan selenggarakan pada tanggal 28-31 Agustus di TWA Batu Putih, Tangkoko Provinsi Sulawesi Utara. Sejumlah apresiasi atas kinerja unit pelaksana teknis menjadi agenda rutin, salah satunya adalah desa binaan terbaik. Hal ini bertujuan untuk pemberian apresasi kepada kelompok masyarakat desa penyangga atas peranan dan kontribusinya dalam penguatan pengelolaan di kawasan konservasi. Tidak hanya mendukung dan turut serta dalam kegiatan konservasi, namun juga turut berperan meningkatkan perekonomian masyarakat penyangga.

Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menerima apresiasi desa binaan terbaik peringkat pertama melalui kelompok binaan, Koperasi Agung Lestari yang merupakan masyarakat Desa Bantaragung. Desa Bantaragung berada di wilayah administrasi Kabupaten Majalengka. Keperasi Agung Lestari, telah mengembangkan diri menjadi role model pengelolaan wisata alam oleh masyarakat penyangga. Usaha, kerja keras dan semangat tidak pernah luput dari jajaran pemerintah desa dan masyarakatnya. Terbangun sejak tahun 2010, sampai saat ini geliat pengelolaan wisata alam semakin meningkat. “Alhamdulilah mudah-mudah menjadi pedoman atau tolak ukur untuk desa-desa lainnya yang berada di kaki Gunung Ciremai dan memotivasi  kelompok lainnya untuk berkembang menjadi pengelola wisata alam yang profesional ” Ujar Kuswandono, Kepala Balai TNGC.

Koperasi Agung Lestari sudah layak mendapatkan apresiasi karena upaya dan peran sertanya dalam menjaga kawasan konservasi tetap lestari serta meningkatkan kesejateraan masyarakat baik dari segi kelola ekologi, ekonomi, sosial dan budaya. Untuk kelola ekologi, kawasan taman nasional terjaga dengan peran aktif masyarakat dalam melestarikan hutan antara lain pada musim kemarau.  Masyarakat terlibat dalam kegiatan pencegahan kebakaran (sekat bakar, Patroli bersama Petugas TNGC), penanaman rutin setiap tahunnya, mensosilisasilkan aturan kehutanan bersama petugas TNGC kepada masyarakat umum.

Kelola ekonomi dengan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar kawasan. Seperti usaha warung, home stay, guide bahkan kuliner. Adanya lokasi wisata alam Curug Cipeuteuy, pengunjung  dari berbagai daerah singgah. Selain itu, hasil dari wisata alam tidak hanya memberikan pendapatan untuk pengelola saja namun sudah berkontribusi dalam pembangunan desa, menyantuni orang yang membutuhkan (panti jompo, anak yatim, bantuan keagaaman). Untuk kelola budaya dengan menampilkan kembali budaya lokal yang digunakan dalam penyambutan tamu seperti pecak silat, jaipong.

#sobatCiremai, patut kita syukuri bahwa semakin hari masyarakat penyangga kawasan TNGC sudah memahami peran penting kawasan. Harapannya kedepan bahwa permasalahan sosial yang kerap menghantui kawasan konservasi tidak akan terjadi apabila kawasan secara nyata memberikan manfaatnya. Tentunya sesuai dengan peraturan perundangan kehutanan yang berlaku, bukan semaunya sendiri dan akhirnya kebablasan. Mari kita kawal kedaulatan rakyat ini bersama, dari kita oleh kita dan untuk kita.

[Teks & foto © Gandi Mulyawan – BTNGC|082018]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: