“Makhluk Tak Kasatmata Penghuni Ciremai”

2018-11-12-07-55-39
.
#sobatCiremai, apakah ini sebuah mitos atau kisah Abu Nawas atau ini adalah sebuah disertasi atau bahkan sebuah temuan baru?.
.
Cerita keangkeran Gunung Ciremai sudah tidak asing lagi, khususnya bagi para pendaki gunung yang pernah menggapai puncak tertinggi di Jawa Barat ini. Namun cerita yang akan kita bahas kali ini bukan tentang makhluk gaib dari kerajaan jin atau Nini Lampir, tapi makhluk gaib yang tak kasatmata dari kerajaan “bakteria”.
.
Kita akan mencoba memahami sebuah konsep tentang nilai penting “mikroba” atau bakteri. Makhluk yang tidak terlihat dengan kasat mata dan berada tersembunyi di akar “epifit” di antara tajuk dan lantai hutan serta di tanah dan di akar tumbuhan di bawah lantai hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
.
Seperti yang sering diungkapkan *Padmo Wiyoso, Kepala Balai TNGC 2015-2017*, “Potensi keanekaragaman hayati kawasan konservasi itu sangat tinggi baik di tajuk pohon, antara tajuk dan lantai hutan, di lantai hutan dan yang tidak terlihat di bawah lantai hutan. Baik yang besar seperti Gajah atau Paus di lautan dan satwa yang kecil. Semua diciptakan tidak sia-sia dan tidak ada yang salah Yang Maha Berkehendak menciptakan semua makhluk yang ada di bumi”.
.
Sebuah kawasan yang terfragmentasi oleh manusia dan soliter dengan luasan yang kurang dari 15.000 hektar, termasuk kawasan konservasi yang kecil dibandingkan dengan kawasan konservasi lain yang luas mencapai ratusan ribu bahkan jutaan hektar, dan ini akan lebih cepat mengalami bahaya kepunahan.
.
Dengan lingkungan sekitar yang di isi oleh pertanian dengan penggunaan pestisida dan pupuk kimia tentunya dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan menurunnya kualitas tanah dan lingkungan. Lebih parah lagi dapat menimbulkan pencemaran dan terkontaminasinya serangga “polinator” dan jenis-jenis satwa pemakan serangga.
.
Tahun 2018, Balai TNGC melalui kegiatan eksplorasi bakteri dan mikroba untuk mengatasi kekeringan, “frost” dan bakteri peningkat daya tahan tumbuhan, telah berhasil mendapatkan beberapa jenis bakteri atau mikroba untuk permasalahan pertanian tersebut.
.
Proses eksplorasi dan pengambilan sampel dilakukan pada daerah dataran rendah 200 meter diatas permukaan laut (mdpl) sampai puncak gunung Ciremai 3.078 mdpl.
.
Sampel yang didapat dikirim ke laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk dilakukan proses mikrobiologi. Alhamdulillah, mendapatkan hasil yang memuaskan serta menjanjikan untuk pengembangan “bioprospeksi” dari kawasan konservasi.
.
Setelah mendapatkan mikroba tersebut dilakukan ujicoba di beberapa lahan pertanian sekitar TNGC dengan jenis tanaman pertanian yang biasa di budidayakan masyarakat setempat.
.
Daerah penyangga yang sehat akan membantu proses kawasan menjadi sehat. Itulah harapan warga konservasi TNGC. Satwa melata pemakan serangga atau “herpetofauna” yang berasal dari luar kawasan akan terjaga kesehatan tubuhnya. Ketika masuk ke dalam kawasan dan menjadi mangsa penghuni Ciremai tidak akan menimbulkan dampak bagi sang pemangsa.
.
Ketika kita menggunakan rumus rantai makanan, maka “top predator” yang memakan mangsa yang telah terkontaminasi racun pestisida tentunya akan menimbulkan masalah bagi proses kehidupan satwa tersebut.
.
Apabila “top predator” terancam hilang dari TNGC maka sudah dapat diduga over populasi jenis mangsa akan terjadi dan hal itu akan mempengaruhi ekologi dan tentunya waktu kepunahan akan lebih cepat.
.
Selain itu, apabila serangga polinator hilang dari kawasan dan daerah penyangga kawasan, maka tidak akan ada lagi “tukang penyerbuk”.
.
Banyak kembang tak jadi buah, tak ada buah tak ada semai, tak ada semai tak ada pacang, tiang dan pohon, tak ada pohon tak ada hutan, tak ada hutan tak ada penyimpan air, tak ada air uang tak berarti, tak ada arti seperti mati, yang mati tinggal di kuburan.
.
#sobatCiremai, ternyata salah satu makhluk tak kasatmata penghuni gunung Ciremai itu bernama bakteri atau mikroba. Kerajaan yang tidak terlihat oleh mata, namun dapat melindungi kawasan konservasi yang cukup luas dan soliter.
.
Ada istilah, “Kecil kecil kuda Kuningan, tidaklah terbuat dari Kuningan. Walaupun kecil tetaplah kuda yang punya manfaat bagi kehidupan”.
.
So, mari kita gunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan demi kelestarian alam sekitar kita.
.
[teks © ISO, image © BTNGC | 112018]
.
#klhk
#ayoketamannasional
#gunungciremai
#pertaniansehat
#mikrobiologi
#bakteria
#ipb
#pesonaindonesia
#wonderfulindonesia

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: