Cerita Liburan Ke Lembah Cilengkrang


.
Sejak beberapa hari mentari tak kunjung menampakan sinar perkasanya. Memang ini sedang musim penghujan. Demikian halnya seperti pagi ini (25/12), langit masih bergelantung awan mendung.
.
Kondisi cuaca mendung sempat membuat keraguan untuk berwisata ke Lembah Cilengkrang, desa Pajambon, Kramatmulya, Kuningan, Jawa Barat. Tapi rengekan si kecil yang sudah tak sabar ingin segera berangkat membuat segala keraguan sirna dan berganti kebulatan niat.
.
Laju kendaraan cukup tersendat di jalan Kuningan-Cirebon yang dipadati kendaraan mobil dan motor yang mungkin juga akan menyambangi “spot-spot” wisata alam yang bertebaran di kaki gunung Ciremai.
.
Tepat di pasar Kramatmulya, “belalang tempur” banting stir ke kanan mengarah ke jalan desa Gandasoli-Pajambon. Di kanan dan kiri jalan terlihat kabut cukup tebal menyelimuti pesawahan dan kebun warga.
.
Setelah beberapa kelok di jalan cukup kecil dan berliku, tibalah di dekat tujuan. Perkebunan jambu bangkok menghampar, menyambut setiap pengunjung yang datang.
.
Anak tangga yang menanjak langsung didaki setelah sebelumnya memarkirkan sepeda motor. Si kecil begitu semangat melangkah demi selangkah.
.
Jarak dari parkiran menuju pos tiket ialah 800 meter dengan medan dominan datar, sedikit turunan dan tanjakan. Tapi tak perlu galau karena sepanjang jalan tersebut, kita disuguhi panorama yang menyejukan. Di sebelah kanan tersaji punggungan Ciremai yang dinaungi kabut. Sementara di sebelah kiri, tebing terjal dengan beberapa batu yang menonjol keluar. Bila lelah, istirahatlah sejenak di kursi bambu yang tersedia. Saat si kecil terlihat lelah puluhan meter berjalan, segera ku gendong dia.
.
Tak lama tiba di pos tiket. Kantin, mushola dan toilet tampak rapih dan bersih berdiri di sekitar tempat pembelian karcis itu. “Hai, lama tak jumpa”, sapa Basir, pengelola wisata Lembah Cilengkrang. Tegur dan sapa terjadi beberapa menit.
.
Selepas beres urusan di pos tiket, kaki ini kembali melangkah sambil menggendong si kecil sejauh 1,1 kilometer. Tanaman perdu yang pucuknya saling di ikat seperti gapura yang indah mengiringi perjalanan kami.
.
15 kilogram berat si kecil cukup membuat nafasku terengah. Tapi beban ini masih lebih ringan bila dibandingan ketika mendaki Ciremai.
.
Angin berlalu membawa ke tepian hutan Pinus. Di sana ada sebuah warung. Suara aliran air sungai mulai terdengar dari tempat ini. Aku bergegas menuruni anak tangga. Pada pertengahan anak tangga, tiba-tiba hujan turun deras. Agak panik, ku paksakan menggapai sebuah mushola di tepi sungai untuk berteduh.
.
“Kita sudah sampai mana yah?”, tanya si kecil penasaran. Lalu ku jawab sambil menikmati “snack” hangat. Meski hujan, pengunjung lain tampak tak peduli. Mereka tetap semangat menerobos hujan.
.
Sesaat ada kesempatan hujan reda, langsung cabut menyusuri jalan setapak yang melintasi sungai dengan bantuan jembatan bambu. Udara semakin lembab karena semakin masuk ke dalam lembah yang dalam. Suara aliran air semakin keras menandakan jarak curug tak jauh lagi.
.
Benar saja, di balik hamparan batu-batu sungai, sebuah air terjun mengalir dengan sejuk. Air yang jatuh dari atas ke dasarnya selalu membawa angin “semriwing”.
.
Berdekatan dengan curug terdapat bak-bak rendam air panas alami yang keluar dari celah batu. Asap mengepul dari kolam rendam, bau belerang dan cipratan air dari tangan yang berendam membuat suasana menjadi meriah. Sementara di sebuah “shelter”, petugas sedang sibuk mengawasi gerak-gerik pengunjung.
.
Si kecil sumringah bermain-main air panas dan dingin. Sungguh senang menyaksikan betapa bahagianya sang buah hati. Tak lupa mengambil satu dua jepretan sebagai kenangan.
.
Puas bermain, si kecil mengajak pulang. Terbayang letih menggendongnya kembali menyusuri jalan setapak yang panjang itu. Tapi tak mengapa asalkan si kecil senang. So, bahagiakanlah orang-orang tercinta kita.
.

[teks © Azis & Rudi, foto © Rudi – BTNGC | 122018]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: