“Ngariung” Dalam Bingkai Sinergi Alam, Seni Dan Budaya

Setelah “ishoma”, acara FGC masih berlanjut (22/12). Animo pengunjung tetap kuat, terlihat dari wajah-wajah serius memandang ke panggung utama. Ya, “talkshow” kedua telah dimulai.

Mengangkat tema “Konektivitas Alam, Seni dan Budaya” berlangsung lebih seru. Yusuf “Oeblet”, budayawan asli Kuningan memandu jalannya acara. Asep Deny, Deden Lokananta, Regitha Nur Indah Paulani, dan H. Awam, Kepala Desa Cibuntu sebagai narasumber. Selain itu, hadir pula Padmo Wiyoso, mantan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), peletak dasar kedaulatan rakyat di TNGC. Masing – masing narasumber mewakili tiap generasi dan pengetahuan mereka yang mumpuni membutuh pemahaman yang lebih.


#Sobatciremai, narasumber memandang dengan persepsi masing-masing. Akan tetapi, benang merah tetap terjalin. Alam tetap saling berkaitan dengan seni dan budaya.


Memakai ungkapan Asep deny, salah seorang seniman Kuningan, “Alam tidak pernah mengingkari yang mencintainya. Sederhananya ada korelasi antara alam, seni dan budaya, sehingga ketiga unsur tersebut saling bersinergi”.

Sejalan dengan konsep tersebut, Deden Lokananta juga mewariskan pandangannya yakni, “Titip alam, karena napas kita adalah alam”. Beliau juga bercerita tentang banyak hasil kebudayaan yang berelasi dengan alam. Salah satunya Situs Naga Jabranti di Ciwaru yang mengarahkan petunjuk ke gunung Ciremai. Selain itu, kita tahu lewat kearifan tradisional diciptakan untuk mendukung kelestarian alam. Contohnya tentang mitos, legenda ataupun larangan untuk mata air.

H. Awam Cibuntu juga bercerita tetang ketulusan dan kesadaran komunal warga Cibuntu dalam melestarikan alam dan budaya sunda di kampung tersebut. Bahkan warga secara “volunteer” menanam areal terbuka di sekitar kampung melalui penghijauan. Ini hal positif artinya masyarakat Cibuntu telah tumbuh dan berkembang kesadaran terhadap alam dan budayanya.

Padmo Wiyoso memandang lebih dalam tentang alam, “Alam adalah karunia Tuhan, gunung Ciremai salah satunya. Sehingga kita wajib memanfaatkannya secara bijak. Tidak sedikit potensi gunung ini yang belum tergali bagi kedaulatan rakyat yang ada di sekitarnya”.

Sebagai perwakilan generasi milenial, Regitha mempunyai pandangan yang lebih “simpel”. Dari tema yang diangkat dapat disarikan secara umum maupun khusus menurutnya, “Menciptakan kesadaran generasi muda lebih diutamakan”.

#Sobatciremai, ternyata keterkaitan alam, seni dan budaya diyakini telah dikenal sejak lama oleh masyarakat di gunung Ciremai. So, mari pelajari hal tersebut dan wariskan ke generasi selanjutnya.

[Teks © Dwi Suryana & Rudy – BTNGC ; Foto © Dwi Suryana & Aditya – BTNGC | 122018]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: