Pendekar Ciremai Turun Gunung!


.
Siang itu (23/12) kabut tebal turun menyelimuti belantara Pinus (Pinus merkusii). Matahari tampak malu-malu memancarkan sinarnya dari pagi hingga siang. Suasana demikian menyebabkan udara sejuk Festival Gunung Ciremai di bumi perkemahan Palutungan menjadi semakin sejuk.
.
Sementara itu, hentakan kendang bertalu-talu bersamaan dengan lengkingan terompet yang seolah menyayat hati.
.
Rupanya, para pendekar atau jawara silat dari Syah Bandar Putra Kinayungan desa Bantaragung, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat sedang “ulin” (pentas, red) jurus silat. Ternyata desa ini tidak hanya ‘gudang wisata’, tapi juga ‘gudang pendekar’. Hebringnya lagi, tak hanya orang dewasa, anak kecil pun sudah pandai main pencak di padepokan pimpinan Abah Iwan Aswita itu.
.
Dari nama Syah Bandar Putra Kinayungan, secara dangkal dapat dikaitkan dengan aliran silat milik “Si Pitung”, jawara Betawi yang melegenda itu.
.
Menurut cerita, padepokan yang berlatih di kaki gunung Ciremai ini juga memasok pesilat bagi tentara kerajaan di sekitarnya seperti #TalagaMaggung, #Pajajaran, #KasepuhanCirebon dan #KesultananMataram. Kiprah yang paling kentara dari padepokan ini yakni saat ikut bergabung dengan tentara Sultan Agung yang menyerbu markas “Kumpeni” di Batavia tahun 1628.
.
“Kembangan”, kuda-kuda, pukulan, tendangan dan tangkisan dipraktekan para ksatria secara lincah dan “berisi”. Gerakan solo atau ‘duel’ selalu menjadi perhatian mata penonton. Tak ayal tepuk tangan, siulan dan ‘sawer’ pun berjatuhan di panggung mereka.
.
Sepintas jurus silat yang tampilkan hanya seperti tarian, tampak lemah. Tapi jangan coba-coba mengujinya. Terbukti saat seorang pesilat tiba-tiba menyerang pesilat lain yang sedang memainkan jurus langsung terpelanting dan berguling-guling di tanah akibat terhempas ‘tenaga dalam’.
.
Aditia, pesilat yang masih duduk di bangku SMP mengatakan seusai pentas, “Cita-cita saya ingin menjadi orang yang berguna bagu nusa, bangsa dan agama. Amin”.
.
“Tak hanya koservasi alam, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pun mesti segera melirik konservasi budaya yang salah satunya ialah seni bela diri pencak silat. Karena konservasi budaya merupakan bagian penting dalam pengelolaan hutan yang lestari”, ungkap Jejen, tokoh padepokan menjelaskan pentas silat tersebut.
.
Sementara itu Kuswandono, Kepala Balai TNGC menanggapi dengan antusias, “Pengelolaan gunung Ciremai memang berpedoman pada kelola ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Ketigannya punya ikatan yang saling mempengaruhi”.
.

sobatCiremai, seorang pendekar sejati punya sikap ksatria yang patut ditiru seperti ketulusan, kejujuran, tabah rendah hati dan banyak lagi sifat terpuji lainnya. Pendekar dalam arti luas ialah setiap insan yang punya jiwa ksatria. So, ayo jadi pendekar!.

.

[teks © Dwi S & Rudi, foto © Dwi S & Adit – BTNGC | 122018]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: