Dendam Nyi Pelet Di Gunung Ciremai


.
Sobat Ciremai, ada yang pernah mendengar cerita Nyi Pelet?.
.
Ya, dongeng Nyi Pelet kesohor dalam sandiwara Radio Siaran Linggarjati Utama (RASILIMA FM) #Kuningan pada dekade 80-an. Dongeng berbahasa #Sunda yang dituturkan penyiar kondang, Mang Jaya tersebut berlatar cerita di seputar gunung Ciremai sehingga sangat ‘membumi’ di masyarakat setempat bahkan hingga ke daerah lain. Mungkin karena itu pula sebagian kalangan mengindentikan gunung Ciremai dengan Nyi Pelet. Yuk kita simak dongengnya!.
.
Alkisah, seorang gadis jelita hidup di kaki gunung Ciremai. Dia berparas #cantik karena rajin merawat tubuhnya dengan ramuan #rahasia. Dia juga pandai memilih pakaian dan bersolek. Rambutnya yang panjang dan hitam di gelung serta disisipi konde. Tubuhnya yang tinggi semampai selaras dengan kebaya dan samping yang dikenakannya. Maka tak heran bila dirinya menjadi pujaan para jejaka.
.
Namun di balik penampilan yang memukau itu, dia memiliki sikap yang tak seperti pada umumnya. Dia tak punya teman sebaya dan tak pernah bersosialisasi dengan masyarakat. Tempat tinggalnya pun menyendiri jauh dari pemukiman penduduk. Parahnya, dia selalu menolak pinangan dari siapa saja termasuk para bangsawan sekalipun. Lebih aneh lagi, tak ada penduduk yang tahu nama aslinya sehingga dia juluki Nyi Pelet.
.
Lambat laun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kecantikan Nyi Pelet memudar. “Diteuteup ti hareup sieup, ditilik ti gigir nyeuntik” (Keanggunan, kecantikan, red) sirna berganti kulit keriput yang pastinya tak menarik bagi siapapun. Di usia tua itu, Nyi Pelet semakin dikucilkan warga setempat. Para lelaki yang dulu memburunya, kini berpaling dan bahkan membencinya.
.
Lantas Nyi Pelet merasa terhina sebab tak lagi menjadi ‘bidadari’ kaum lelaki. “Entah bagaimana Nyi Pelet menjelma menjadi siluman dan mulai mencari mangsa”, cerita Dudi, warga desa #Argalingga, Argapura, #Majalengka. Masih menurut Dudi, siluman Nyi Pelet merayu jejaka untuk dijadikan tumbal kecantikannya. Darah muda jejaka itu dibasuhkan ke seluruh tubuhnya yang di iringi jampi-jampi. Walhasil selepas ritual itu, tubuh Nyi Pelet Kembali cantik jelita seperti masa mudanya.
.
Tapi rupanya, kecantikan Nyi Pelet yang berasal dari tumbal itu tak tahan lama. Oleh karenanya dia harus terus mencari tumbal. Lama kelamaan Nyi Pelet kesulitan untuk menjerat tumbal karena isu ritual kecantikannya telah diketahui warga setempat. Hal ini membuat Nyi Pelet berpikir keras untuk mencari cara mendapatkan mangsa.
.
Suatu ketika, Nyi Pelet mendengar kabar ada sebuah kitab Mantra Asmara. Konon, dalam kitab itu terdapat ajian Jaran Goyang yang sangat ampuh menaklukan hati lelaki. Namun tak mudah memiliki kitab itu karena ada pemilik dan penciptanya, Ki Buyut Manguntapa.
.
Menurut penulis buku “Pelet Nyi Pelet”, Masruri, Ki Buyut Manguntapa ialah seorang sakti mandraguna dari ‘golongan putih’ yang ditempa lewat laku lampah tapa brata yang dilakoninya selama bertahun-tahun.
.
“Usaha Nyi Pelet untuk mendapatkan kitab Mantra Asmara sering gagal”, ungkap seorang warga Cipulus yang tak mau disebutkan namanya. Tapi suatu ketika dalam sebuah pertarungan yang sengit, Nyi Pelet berhasil merebut kitab itu. Konon, Ki Buyut Manguntapa lengah karena terpeleset sehingga Nyi Pelet menggondol kitab miliknya.
.
Sejak saat itu, Nyi Pelet bisa dengan mudah menjerat jejaka tumbalnya. Ya, Jaran Goyang memuluskan sepak terjang sang nyai. Banyak korban mulai berjatuhan akibat kelakuan jahat Nyi Pelet sehingga menyusutkan jumlah penduduk pria muda. Penduduk setempat yang tersisa tinggal lelaki tua dan perempuan saja.
.
Tak tahan dengan sikap durjana Nyi Pelet, warga pun mengadu kepada Sunan Gunung Jati di #Cirebon. Susuhunan bertindak cepat dengan mengirim bala tentara untuk membantu tugas Ki Buyut Manguntapa di kaki gunung Ciremai.
.
Singkat cerita, dalam sebuah adu kanuragan yang dahsyat di #Lambosir, Ki Buyut Manguntapa dan pasukan Sunan Gunung Jati berhasil melumpuhkan Nyi Pelet. Banyak prajurit yang terluka parah bahkan gugur dalam pertarungan itu. Konon, usai mengalahkan siluman itu, Ki Buyut Manguntapa menetap di desa Singkup, Pasawahan, Kuningan. “Di sini memang ada makam Ki Buyut Manguntapa. Tapi di Indramayu juga ada makam beliau”, tutur Rahmat, warga Singkup. Masih menurut Rahmat, uniknya kedua makan Ki Buyut Manguntapa berada di Mangunjaya. Bedanya, Mangunjaya yang ada di Singkup adalah sebuah dusun. Sedangkan Mangunjaya yang ada di Indramayu adalah sebuah desa.
.
Nasib akhir Nyi Pelet tidak diketahui karena dia dipercaya sebagai siluman atau jin yang kematiannya pada saat kiamat. Tapi yang jelas, aji Jaran Goyang banyak diburu oleh mereka yang kurang percaya diri dalam asmara. Ada dua versi ajian ampuh itu, ‘golongan putih’ pengikut Ki Buyut Manguntapa dan ‘golongan hitam’ pengikut Nyi Pelet.
.
#sobatCiremai, terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, kelakuan Nyi Pelet tidak pantas kita tiru. Kita mesti percaya diri dengan apa yang dimiliki untuk mendapatkan pasangan. Tapi terkait dongeng tadi kita bisa maknai sebagai kekayaan sosial budaya masyarakat gunung Ciremai. So, ambil kebaikan cerita tadi dan buang keburukannya.
.
[Teks © Gandi, Image © Rudi & Google- BTNGC | 012019]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: