Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Daerah Penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai

ABSTRAK

Keberhasilan pengelolaan taman nasional sangat ditentukan oleh intensitas interaksi dan dukungan yang diberikan oleh masyarakat sekitar kawasan taman nasional. Jika upaya pelestarian dianggap sebagai sesuatu hal yang akan memberi manfaat, maka masyarakat setempat akan melindungi kawasan tersebut (MacKinnon 1990). Penelitian ini bertujuan untuk pertama, menelaah permasalahan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat daerah penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kedua, menganalisis dan melakukan simulasi dinamis pengembangan program ekowisata dan agroforestri, dan ketiga, merumuskan strategi pengembangan sosial ekonomi masyarakat daerah penyangga TNGC melalui kegiatan ekowisata dan agroforestri. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2010 hingga Mei 2011 di daerah penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Provinsi Jawa Barat. Sebanyak 5 desa yang memiliki potensi ekowisata dan/atau agroforestri dipilih secara purposive sebagai desa sampel. Data diperoleh melalui metode survei dengan wawancara kepada sejumlah responden, observasi langsung di lapangan, Focus Group Discussion (FGD), data sekunder dan literatur. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode : 1) analisis deskriptif, 2) analisis penawaran (supply) dan permintaan (demand), 3) analisis pemangku kepentingan (stakeholder), serta 4) analisis sistem dinamik dengan perangkat lunak STELLA 9.02. Model yang dibangun terdiri dari tiga sub model yaitu: 1) Sub model kesempatan kerja, 2) Sub model pendapatan, dan 3) Sub model kelestarian TNGC. Variabel kunci yang digunakan untuk menganalisis pengaruh pengembangan ekowisata terhadap penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat adalah: 1) pengembangan fasilitas ekowisata, 2) jumlah program/ kegiatan dari stakeholder yang mendukung ekowisata, dan 3) jumlah anggota masyarakat yang terlibat dalam program/kegiatan ekowisata. Adapun variabel kunci yang digunakan untuk menganalisis pengaruh pengembangan agroforestri terhadap tenaga kerja dan pendapatan adalah: 1) frekuensi penyuluhan, 2) frekuensi pendampingan, 3) jumlah program/kegiatan dari stakeholder, dan 4) jumlah anggota masyarakat yang terlibat dalam program/kegiatan agroforestri. Tiga skenario pengembangan ekowisata dan agroforestri disimulasikan dalam studi ini: skenario bussiness as usual; moderat dan optimis.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat daerah penyangga TNGC secara singkat adalah sebagai berikut. Pertama, masyarakat daerah penyangga sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani dan berpendidikan tamat Sekolah Dasar. Kedua, alternatif mata pencaharian di sektor ekowisata dapat memberikan kontribusi pendapatan sebesar 41% dari total pendapatan masyarakat dan dari kegiatan agroforestri dapat memberikan kontribusi sebesar 56,29%. Ketiga, sikap masyarakat yang kurang mendukung upaya konservasi TNGC disebabkan kurangnya manfaat yang langsung dirasakan oleh masyarakat dari keberadaan TNGC. Adapun untuk menganalisis sistem dinamis pengembangan sosial ekonomi masyarakat daerah penyangga diperoleh hasil sebagai berikut. Untuk skenario eksisting (bussiness as usual), hasil simulasi menunjukkan bahwa dalam 10 tahun mendatang tenaga kerja yang diserap di ekowisata akan meningkat sebesar 135,78%; dan pendapatan per kapita per bulan warga masyarakat yang terlibat dalam usaha ini akan meningkat sebesar 60,76%. Adapun pengembangan agroforestri akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 38,27% dan meningkatkan pendapatan warga masyarakat yang berusaha di usaha ini sebesar 5,73%. Dampak lanjutan dari hal ini adalah meningkatnya penutupan hutan TNGC dari 5.132 ha menjadi seluas 5.231 hektar atau meningkat sebesar 1,92%. Adapun analisis pengembangan ekowisata dan agroforestri dengan skenario moderat menunjukkan beberapa hal sebagai berikut. Dalam 10 tahun mendatang jumlah tenaga kerja yang akan diserap akibat pengembangan ekowisata diperkirakan meningkat sebesar 200% dengan pendapatan per kapita per bulan meningkat sebesar 119,16%. Sementara jumlah tenaga kerja yang akan diserap akibat pengembangan agroforestri diperkirakan meningkat sebesar 213,64% dengan pendapatan per kapita per bulan meningkat sebesar 78,68%. Dampak lebih lanjut dari hal ini adalah bertambahnya luas penutupan hutan TNGC dari 5.132,00 hektar tahun 2009) menjadi 6.580 hektar tahun 2019) atau mengalami peningkatan sebesar 28,21%. Adapun hasil simulasi untuk skenario optimis pengembangan ekowisata dan agroforestri menunjukkan hal sebagai berikut. Dalam 10 tahun mendatang, jumlah tenaga kerja yang diserap ekowisata diperkirakan akan meningkat sebesar 200% dan pendapatan per kapita per bulan anggota masyarakat diperkirakan meningkat sebesar 119.16%. Sementara untuk pengembangan agroforestri, tenaga kerja yang diserap akan meningkat sebesar 481,72% dan pendapatan per kapita per bulan meningkat sebesar 176,16%. Implikasi lebih lanjut dari situasi ini adalah luas penutupan hutan TNGC bertambah dari 5.132 hektar (pada tahun 2009) menjadi 7.286 hektar (pada tahun 2019) atau mengalami peningkatan sebesar 41,96%.

Apabila akan ditempuh pengembangan ekowisata dan agroforestri menurut skenario moderat, maka strategi yang perlu ditempuh oleh stakeholder Pemerintah (Balai TNGC dan Pemda Kabupaten Kuningan) adalah melibatkan secara aktif peran dunia usaha atau LSM sebagai mitra dalam pengembangan program ekowisata dan agroforestri. Adapun program-program yang perlu dijalankan adalah pertama, pengembangan fasilitas ekowisata dari kondisi kurang baik menjadi cukup baik dengan fokus pelayanan pengunjung dan pengembangan usaha. Kedua, peningkatan frekuensi penyuluhan minimal empat bulan sekali dengan fokus ketrampilan teknik penanggulangan nama dan penyakit, peningkatan produksi jenis tanaman unggulan dan pemasaran hasil. Ketiga, pendampingan kelompok dengan fokus pada fasilitasi usaha produktif dan peningkatan nilai tambah produksi agroforestri. Keempat, keberlanjutan program ekowisata dan agroforestri minimal dua kali per tahun, dengan fokus permodalan dan pelatihan peningkatan usaha wisata dan agroforestri, serta kelima, pelibatan masyarakat yang lebih merata dengan prioritas pada masyarakat yang belum pernah dilibatkan dalam program. Namun bila akan ditempuh pengembangan ekowisata dan agroforestri menurut skenario optimis, maka strategi yang perlu ditempuh oleh stakeholder Pemerintah (Balai TNGC dan Pemda Kabupaten Kuningan) adalah melibatkan secara aktif peran dunia usaha dan juga LSM sebagai mitra dalam pengembangan sosial ekonomi masyarakat daerah penyangga dengan membentuk sebuah wadah organisasi pengelolaan bersama. Program-program yang perlu dijalankan adalah pengembangan fasilitas ekowisata menjadi sangat baik, pengembangan agroforestri melalui peningkatan frekuensi penyuluhan minimal dua bulan sekali, pendampingan masyarakat minimal tiga kelompok per desa, program-program dari stakeholder dilakukan secara kontinyu minimal tiga kali per tahun, serta pelibatan masyarakat dalam program ditingkatkan minimal tiga kali dari kondisi saat ini. Pengembangan ekowisata dan agroforestri tersebut dengan fokus yang sama dengan skenario moderat. Seluruh program dilakukan melalui pendekatan pengembangan masyarakat dari semula memandang masyarakat sebagai pihak lemah dan tidak berdaya (hanya sebagai objek perubahan) menjadi pendekatan yang lebih berorientasi pada perubahan sikap, tingkah laku dan budaya yang mengarah pada kemandirian masyarakat (sebagai subjek perubahan). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan daerah penyangga yang berbasis pada pengembangan sosial ekonomi masyarakat melalui kegiatan ekowisata di desa Cisantana, desa Manis Kidul dan desa Pajambon, serta kegiatan agroforestri di desa Karangsari, desa Seda dan desa Pajambon akan dapat meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat, jika terdapat sinergitas diantara stakeholder, dilakukan dengan memberikan peran yang lebih besar pada masyarakat dalam pengelolaan daerah penyangga, melalui pendekatan pengembangan masyarakat yang lebih memperhatikan proses dari pada hasil serta memberikan kemudahan akses ilmu pengetahuan dan teknologi, akses modal dan akses terhadap sumberdaya alam kepada masyarakat daerah penyangga.

ABSTRACT

The objectives of this research are, first, to explore in-depth the problems and the socio economic conditions of the community living in the buffer zone of Gunung Ciremai National Park (GCNP). Second, to simulate and analyze the impact of the agroforestry and ecotourism development to local labor absorption, income and forest cover. Third, to formulate the strategy for socio economic development of the buffer zone’s Park. The research caried out in the five villages located at the buffer zone of the GCNP. Data were obtained through field survey by interviewing several amount of respondents, direct field observations, focus group discussion and secondary data collections. Data were analyzed through supply and demand analysis, descriptive analysis, stakeholder’s analysis, and dynamic system analysis. Three scenarios are simulating in the last mentioned analysis i.e. business as usual, moderate and optimist scenario.

Regarding the first objective, the existing socio economic conditions of the buffer zone’s Park are describe as follows. First, most of the community living in the buffer zone work as land owner-farmer or labor-farmer and educated from elementary school. Second, the agroforestry activities contribute up to 56 percent of the total household income whereas, the ecotourism contribute to amount of 41 percent. Third, the attitude of the local people toward national park conservation is considered low due to fewer park’s benefit perceived by the local people. Concerning the second objective of the research, the optimist scenario is the best path way for developing the future socio-economic conditions of the buffer zone. However, with regards to third objective of the research, the best strategy for developing the socio economic conditions of the buffer zone is through improving the infrastructure facilities for ecotourism, intensifying the frequency of agroforestry extension, sustained local community assistance as well as enhancing local community participation toward ecotourism and agroforestry development.

Keywords: buffer zone, national park, ecotourism, agroforestry, community development

Riset Lainnya
Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: