Kisah Gunung Api Ciremai


.
Ciremai punya cerita letusan yang cukup panjang. Fenomena alam yang terbentuk akibat aktivitas erupsinya menjadi dongeng yang terukir alami di setiap bagian badan gunung Ciremai.
.
Gunung yang identik dengan Sunan Gunung Jati ini bertipe “strato volcano A” atau gunung api yang pernah meletus setelah tahun 1600.
.
Gunung api tertinggi di Jawa Barat ini juga unik secara “fisiogragi”. Karena berdiri “soliter”, terpisah dari “klaster” jajaran gunung api di pulau Jawa.
.
Berada di utara Jawa bagian barat. Dipisahkan zona sesar Cilacap-Kuningan dari kelompok gunung api di Jawa Barat yakni deretan gunung Galunggung, gunung Guntur, gunung Papandayan, gunung Patuha hingga Tangkuban Parahu.
.
Zona sesar Cilacap ini memiliki potensi gempa tektonik. Tercatat gempa tektonik terjadi tiga kali akibat struktur sesar ini yakni pada 1947, 1955, dan 1973.
.
Karakter erupsi Ciremai berskala menengah. Hal itu bisa kita lihat pada endapan aliran dan jatuhan “piroklastik”. Dimana secara berangsur-angsur kekuatan erupsi melemah dan cenderung menghasilkan erupsi magmatik. Hamparan bebatuan dan ilalang mulai dari desa Setianegara hingga desa Padabeunghar, Kuningan ialah bukti erupsi dahsyatnya.
.
Ciremai sudah beberapa kali meletus. Selang antar letusan terpendek yaitu tiga tahun. Sedangkan yang terpanjang 112 tahun. Jadi catatan letusan terakhir pada 24 Januari 1938 hingga 7 Juni 1938.
.
Secara keseluruhan, Ciremai sudah 10 kali “batuk-batuk dan muntah”. Menurut Brascamp, “3 Februari 1698 gunung di Cirebon telah roboh yang mengakibatkan air laut begitu tinggi hingga merusak tanah dan menyebabkan korban manusia”.
.
Kemudian pada 11 hingga 12 Agustus 1772 terjadi letusan di kawah pusat. Menurut Junghun pada April 1775 terjadi letusan dari kawah namun tidak menimbulkan kerusakan.
.
“Hembusan uap belerang dari dinding selatan. Keluar asap Fumarola secara kuat sehingga menciptakan lubang besar yang dinamakan Goa Walet”, tulis Van Gils pada 1917 dalam bukunya.
.
Lantas pada September 1924, hembusan kuat dari Furmarola di bagian barat dinding pemisah. “Pada 24 Juni 1937 hingga 7 Januari 1938, letusan berlanjut dari kawah pusat. Letusan abu atau Freatik”, tulis Neuman van Padang. Lalu pada 1949 terjadi gempa bumi?.
.
Wirjosumarto dan Fatah pada 1955 mencatat gempa bumi tektonik yang menimbulkan kerusakan beberapa rumah di sekitar kewedaan Cilimus, Kuningan tapi tak menimbulkan kegiatan magmanya.
.
Terakhir pada 16, 21, dan 26 April 1973, terjadi gempa bumi tektonik di desa Sunia, Majalengka. “Episentrum” gempa yang terjadi dangkal dan terdapat di timur Lembang pada jarak 100 kilometer.
.
Memang tidak ada catatan lengkap terkait dampak erupsi Ciremai. Misalnya jumlah korban manusia dan bangunan. Karena semua kejadian tadi masih dalam zaman penjajahan.
.
#sobatCiremai, kita hidup di bawah anugerah dan ancaman gunung api. Oleh karenanya kita mesti mampu memanfaatkan dan menangani segala kemungkinan yang terjadi. So, ayo kenali lebih dekat gunung Ciremai.
.
[Teks © Tim Admin & Harley B. Sastha, Foto & Image © Tim Admin-BTNGC | 042019]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: