Ayo Kenali Kebiasaan Bersalam-salaman Sang Semut

Minal aidin walfaizin, maafkan lahir dan bathin. Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin.

Sobat Ciremai, tentunya sudah tidak asing lagi dengan bait lagu ini bukan? Ya, lagu ini karya sang maestro musik Indonesia “Ismail Marjuki”. Di hari raya Idul Fitri ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk saling bersilaturahmi. Dengan saudara dekat maupun jauh. Kerabat serta kawan lama yang mungkin sudah lama tidak berjumpa. Tentunya sudah menjadi tradisi bagi kita. Setiap berjumpa dengan saudara ataupun kawan. Selalu diawali dengan berjabat tangan atau istilah kerennya bersalam-salaman. Bahkan jika jumlah saudara atau kawan kita banyak. Kita akan mengantri untuk bersalam-salaman layaknya sang semut. Ada apa dengan sang semut? Mari simak terus informasinya ya Sobat.

Jika Sobat pernah memperhatikan bagaimana saat semut berjalan bersama semut lainnya. Semut akan berhenti sejenak dan bersentuhan. Dengan semut lainnya yang berjalan dari arah yang lain. Dan mereka melakukan hal tersebut pada semua semut. Yang ditemuinya satu-persatu tanpa terkecuali. Mengapa sang semut melakukan perilaku tersebut? Yang saling menyapa saat bertemu. Antara satu dengan yang lainnya seperti halnya manusia. Salah satu penyebabnya adalah sebagai tanda persaudaraan. Semut hidup, berkembang serta menjalankan seluruh kegiatannya. Bersama semut lainnya yang menjadi koloninya. Yang menjadikan sang semut memilki sifat sosial yang sangat kuat. Dan akan selalu saling menyentuh dengan semut lainhya. Yang berjalan dari arah lainnya sebagai tanda persaudaraan.

Terlepas dari siapa yang bersalam-salaman. Apakah manusia atau semut. Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari tradisi bersalam-salaman ini. Terutama di hari raya Idul Fitri ini saat kita kembali ke fitrah. Hikmah yang bisa kita ambil diantaranya adalah. Saat kita bersalam-salaman, Insya Allah akan diampuni dosa-dosa kita. Selain itu akan menimbulkan rasa saling menyanyangi. Menimbulkan ketenangan jiwa. Menghilangkan kebencian dalam hati. Dan tentunya mencerminkan kelembutan hati bagi yang melakukannya.

Sobat Ciremai, mari kita biasakan untuk bersilaturahmi dan bersalam-salaman. Kapanpun dan dimanapun apabila bertemu dengan saudara ataupun kawan. Seperti layaknya sang semut yang selalu menjaga tali persaudaraannya. Dan kita akan merasakan indahnya silaturahmi.

[Teks & Foto © Aom Muhtarom-BTNGC|062019]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: