Begini Sosialisasi Pelepasliaran Macan Tutul Jawa Di Gunung Ciremai


.
Gunung Ciremai akan kedatangan tamu penting yakni Slamet Ramadan, seekor macan tutul Jawa. Macan ini merupakan hasil evakuasi tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Barat beserta para pihak.
.
Proses menuju pelepasliaran tersebut sudah lama dilakukan loh sobat. Tim yang dikomandoi Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) telah bergerak sebulan ini. Mulai pembentukan tim, studi ekologi, studi sosial sampai proses sosialisasi formal pada hari ini (3/7).
.
Acara sosialisasi ini dihadiri oleh Pemerintah Daerah dan Desa, pengelola lokasi wisata alam, pegiat konservasi, TNI, Polri, tokoh masyarakat serta Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yakni Balai Taman Nasional Gunung Ciremai dan Balai Besar KSDA Jawa Barat.
.
Dalam sambutannya, Pupung Purnawan, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Soreang, Balai Besar KSDA Jawa Barat menyampaikan kronologis evakuasi sampai kondisi update si macan yang dititipkan di Kebun Binatang Bandung.
.
Dalam rapat teknis beberapa hari lalu, gunung Ciremai dianggap kawasan ideal untuk pelepasliaran terkait dengan data populasi dan satwa mangsa yang lengkap.
.
Hal ini pun diamini Kuswandono, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). “Berdasarkan data 2018, jumlah macan tutul di gunung Ciremai paling banyak tiga ekor. Sedangkan satwa mangsa relatif melimpah terutama babi hutan dan monyet ekor panjang”, jelas Kuswandono.
.
Acara sosialisasi ini menghadirkan narasumber yakni Toto Supartono, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan (Uniku); Didik Raharyono, Peduli Karnivor Jawa; Singgih, Profauna; Erwin Wilianto, Sintas Indonesia.
.
Sedangkan jalannya diskusi dipandu Ade Suharso dari Direktorat KKH, Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).
.
Para pihak sepakat rencana pelepasliaran bertempat di gunung Ciremai. “Bertolak dari data konflik satwa dan populasi macan tutul Jawa di gunung Ciremai, kawasan ini memungkinkan untuk pelepasliaran”, ungkap Toto Supartono di akhir presentasinya.
.
Hal ini pun didukung oleh data Peduli Karnivor Jawa. “Macan tutul walaupun makan daging, tapi satwa ini cenderung pemalu dan menghindar bila bertemu manusia. Dengan beberapa catatan yakni jarak pelepasliaran dengan lokasi terdekat”, tegas Didik.
.
Serupa dengan argumen di atas, Erwin pun mengatakan, “Tidak ada catatan macan tutul menyerang manusia”.
.
Sementara itu Dodo, warga desa Padabeunghar, Pasawahan, Kuningan sempat mengutarakan kekhawatirannya. Tapi setelah mendapatkan penjelasan dari narasumber, dia mulai mengerti dan memahami.
.
Nah #sobatCiremai, rencananya Sang Raja Rimba akan dirilis dalam waktu dekat sesuai hasil observasi. Saat pelepasliaran tentu didukung peralatan sesuai standar. Kemudian akan dimonitor oleh tim gabungan pasca rilis.
.
So, mari kita sambut kedatangan macan tutul Jawa dengan tangan terbuka.
.
[Teks & foto ©️ Robi-BTNGC | 072019]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: