521 Tahun Kuningan: Jejak Adipati Arya Kamuning

“Pagi itu cuaca cerah, angin bertiup sepoi-sepoi di pendopo keraton #Pakungwati, Cirebon dengan iringan gending gamelan mendayu-dayu.

Seorang pria muda duduk bersila tepat di hadapan singgasana Sultan. Wajahnya tampak tegang sekaligus menyimpan bahagia. Di kanan dan kirinya berjejer Menak (ningrat, red) yang dikawal para prajurit.

Tak lama kemudian muncul Sinuhun sambil tersenyum lalu duduk di peraduannya. Sontak seisi ruangan memberi salam kehormatan.

‘Hari ini aku penuhi janji kepada anakku, Arya Kamuning. Aku angkat engkau bertahta di Kuningan dengan gelar Sang Adipati’, kata Sunan Gunung Jati”.

Mungkin begitulah suasana ‘pelantikan’ Adipati Kuningan pada 521 tahun lalu.

Konon, peristiwa penting ini terjadi pada 14 Suro tahun setempat yang bertepatan dengan 1 September 1498. Menurut ‘mbah Google tanggal tersebut adalah hari Sabtu.

Saat itu, Kuningan merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Pakungwati, Cirebon pimpinan Sunan Gunung Jati.

Arya Kamuning alias Suranggajaya alias Bratawiyana ialah anak Ki Gedeng Luragung.

Menurut cerita lisan, ia menjadi anak angkat Sunan Gunung Jati untuk ‘mengobati’ kesedihan istrinya yang mengalami keguguran.

Mengenai cerita seputar kelahiran Arya Kamuning, sobat bisa baca lagi di postingan beberapa bulan lalu.

Selepas pelantikan, Arya Kamuning yang menunggangi kuda putih, Si Windu bergegas kembali ke Luragung. Sang Adipati ditemani Ewangga yang kemudian hari menjadi Panglima Perang-nya.

Mula-mula Sang Adipati menggabungkan Luragung dengan Kajene menjadi satu yakni Kuningan.

Lalu ia membangun kekuatan militer yang cinta damai khususnya pasukan berkuda atau “kavaleri”.

Nah dengan pasukan inilah, Keadipatian Kuningan banyak membantu Sunan Gunung Jati dalam penyebaran ajaran Islam terutama wilayah selatan #Priangan seperti #Ciamis, #Tasikmalaya, #Banjar, #Pangandaran, dan #Garut.

Adipati Kuningan melalui Ewangga juga turut membantu Kesultanan Demak ‘mendatangi’ Kesultanan #Banten. Kemudian menyerbu #Portugis di #SundaKalapa.

“Ia juga sempat bersitegang dengan Arya Wiralodra, penguasa #Indramayu. Namun ketegangan tersebut berhasil diredakan oleh Sunan Gunung Jati”, cerita E. Mungal, abdi dalem keraton Kasepuhan Cirebon.

Semasa tak ada perang, Arya Kamuning menata kehidupan rakyatnya terutama sektor pertanian. Saat itu umumnya masyarakat Sunda di Kuningan masih menggunakan Huma (sawah kering, red) untuk menanam padi.

Lalu Sang Adipati melakukan revolusi hijau dengan memadukan konsep pertanian dari #Demak dan #Mataram yakni sawah basah seperti yang kita tahu saat ini.

“Kontur wilayah Kuningan yang berbukit-bukit mengakibatkan sawah menjadi bertingkat-tingkat”, kata Mang Adi, warga desa Linggasana, Cilimus, Kuningan.

Sawah semacam ini bisa kita saksikan di sepanjang kaki gunung Ciremai dan wilayah perbukitan timur Kuningan. Dari kecamatan Darma hingga Pasawahan, kita bisa menikmati keindahan panorama sawah bertingkat yang persis di pulau #Bali.

Tak hanya padi sawah, Sang Adipati pun memperkenalkan sumber pangan baru yaitu #Boled atau umbi tanah.

Konon, ide ini muncul tatkala beliau berkunjung ke kaki gunung Ciremai di sekitar #LembahCilengkrang.

“Entah bagaimana Mbah Arya Kamuning mendapatkan ‘areuy’ atau bibit Boled. Kemudian ditanam di sawah”, ungkap Basir, warga desa Pajambon, Kramatmulya, Kuningan di area petilasan Sang Adipati.

Mungkin inilah asal muasal Boled Kuningan yang sekarang kita kenal?.

#sobatCiremai, itulah sederet prestasi era kepemimpinan Arya Kamuning yang menjadi masa kejayaan Kuningan. Wallahu alam bi sawab.

Kini, lebih dari setengah milenium telah berlalu. Sang Adipati tentu telah tiada menyisakan memori kisah indahnya.

Namun kita tak perlu terlalu larut dalam romantisme sejarah. Karena Kuningan di era milenial ini sedang bersolek menjadi kabupaten mandiri, agamis, dan pinunjul.

Salah satunya cara untuk mewujudkan cita-cita Kuningan itu yakni melalui pembangunan wisata alam. So, ayo wisata alam ke Kuningan untuk mendukung pariwisata dalam negeri, Indonesia.

Dirgahayu Kuningan!.

[Teks & image ©️ Tim Admin-BTNGC | 092019]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: