Kidang Kancana: Riwayat Nini Kating Di Gunung Ciremai

Di mana pun kita berada tentu selalu ada cerita yang bisa digali dan diambil hikmahnya. Karena meskipun cerita rakyat belum tentu berdasarkan kisah nyata, namun selalu menyimpan petuah adi luhur yang patut kita tiru.
.
“By the way” sobat pernah ke wisata alam bukit Lambosir, desa Setianegara, Cilimus, Kuningan, Jawa Barat?.
.
Ya, ternyata di balik keindahan panorama yang menghampar ke pantai utara Jawa (#pantura) itu menyimpan kisah yang cukup menarik.
.
Konon saat nusantara masih pada zaman kerajaan sebelum kedatangan para kaum penjajah, hiduplah nini (Nenek, red) empat bersaudara di kaki utara gunung Ciremai.
.
Empat nini bersaudara itu ialah nini Nala, nini Buyuk, nini Kating, dan nini Kadrem. Mereka merupakan anak dari pasangan Nink Parajut dan Aki Parajut.
.
“Masing-masing nini itu punya riwayat tersendiri yang memiliki nilai kearifan lokal”, ungkap Beni, pengelola wisata alam bukit Lambosir (17/9).
.
Masih menurut Beni, nini Kating ialah Begawan ‘pengasuh’ semua satwa Kidang atau Mencek atau Kijang yang ada di gunung Ciremai.
.
Sehari-hari sang nini menyibukkan diri dengan ratusan atau mungkin ribuan Kijang. Ia mengamati dari jauh tingkah para Kijang itu. Wanita tua renta itu acap kali memastikan rombongan satwa liar hidup sesuai kodratnya.
.
Nini Kating sangat membenci orang yang serakah memburu Kijang. Ia akan langsung menghardik. Bahkan tak segan mengusir dan melukai pemburu jahat tersebut.
.
Tapi ia diam saja tatkala Kijang dimangsa hewan buas lain seperti Macan dan ular Sanca. Mungkin ia berpikiran, hewan buas itu hanya menjalankan hukum rimba. Yang kuat memangsa yang lemah. Hanya sebatas itu tanpa keserakahan.
.
“Ajian Kidang Kancana kepunyaan nini Kating diulik dari tingkah laku Kijang”, lanjut Beni.
.
Ia menciptakan ajian itu untuk mempersiapkan kedatangan bangsa berambut jagung yang akan menghancurkan bumi nusantara. Wangsit ini ia dapatkan dalam mimpi selama tujuh hari tujuh malam tanpa jeda.
.
“Tak diketahui secara pasti awal dan akhir riwayat hidup nini Kating”, ungkap Beni.
.
“Nini Kating tutup usia di daerah Pasawahan, Kuningan”, pungkas Beni.
.
Sebelum wafat, sang nini berwasiat pamali (tabu, red). Semua keturunannya di Pasawahan dan daerah lain dilarang berburu Kijang. Apalagi sampai memakan dagingnya. Justru sebaliknya mereka harus menjaga Kijang seperti yang telah ia contohkan.
.
Konon bagi mereka yang melanggar akan terkena kutukan kesialan atau apes selama hidupnya.
.
#sobatCiremai, kita tak tahu benar atau tidak kisah nini Kating ini. Tapi yang jelas, dewasa ini berburu satwa liar adalah tindakan yang tidak dibenarkan dan melanggar hukum. Apalagi bila dilakukan dalam kawasan taman nasional.
.
So, ayo kita cintai satwa liar melalui kearifan lokal.
.
[Teks & foto © Tim Admin-BTNGC | 092019]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: