Sigung Jawa: Si Penyendiri Pemilik ‘Jurus Aji Kentut Semar’

Sigung Jawa atau “Mydaus javanensis”  bertubuh kecil dengan panjang kepala dan tubuh antara 370 sampai 520 milimeter (mm). Ekornya pendek dengan panjang antara 34 sampai 38 mm. Satwa ini berkaki pendek, tungkai belakang bagian bawah antara 64 sampai 70 mm, sedangkan moncongnya panjang.

Berat badan mamalia ini berkisar antara 1,4 sampai 3,6 kilogram saja. Karena perawakannya ini, sepintas Sigung mirip Musang.

Tubuh satwa liar ini tertutupi rambut yang panjang dan lebat. Warnanya hitam atau coklat tua dengan garis belang putih memanjang bagian atas tubuh dari tengah kepala hingga ekor. Bentuk dan panjang garis putih di punggungnya itu bervariasi.

Sigung Jawa termasuk binatang penyendiri yang beraktivitas pada malam hari atau “nokturnal”.

Ia gemar mencari makanan di tanah atau “terestrial” dan menggalinya dengan menggunakan cakar dan moncongnya. Mangsanya yakni cacing tanah dan tempayak serangga seperti Tonggeret.

Sebenarnya satwa ini bersifat “omnivora” atau pemakan hewan dan tumbuhan. Ia juga memangsa aneka jenis katak, ular, tikus, burung, dan telur. Selain itu ia pun memakan buah-buahan, akar, jamur, dan dedaunan.

Nah, keunikan mamalia berambut indah ini mempunyai kemampuan mengeluarkan bau busuk sebagai alat pertahanan dirinya terhadap “predator”.

Bila dalam keadaan terpojok, seekor Sigung Jawa akan menundukkan kepala, mengangkat ekor, dan akan menjejak-jejakkan cakar depannya di tanah. Hal ini ia lakukan sebagai peringatan buat para musuhnya.

Jika musuh tidak segera pergi, ia akan melengkungkan tubuhnya membentuk huruf U. Kemudian mengarahkan kepala dan ekornya seolah-olah membidik musuh. Lalu ia menyemburkan aroma berbau yang sangat busuk.

Kalau ketemu dengan Sigung di hutan, sebaiknya kita menghindar saja ya sobat. Daripada nanti disemprot bau busuk olehnya. “Oh, no!”.🤢🤧

#sobatCiremai, sebaran populasi Sigung Jawa sangat sedikit karena hanya berada di wilayah bagian barat pulau Jawa saja. Salah satunya di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kontras dengan Sigung di Sumatera dan Kalimantan yang populasinya tersebar merata.

Kita tahu, semua tumbuhan, satwa, dan apapun yang ada di taman nasional dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku. So, mari kita kenali dan lestarikan alam beserta isinya. Karena cinta itu tak mesti memiliki. Cie-cie!.

[Teks ©️ Tim Admin, foto ©️ Hendra Rimbani |092019]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: