Huni, Buah Klasik Yang Semakin Tersembunyi


.
Huni atau #Boni dalam bahasa Sunda atau #Wuni dalam bahasa Jawa ialah tumbuhan asli Indonesia dengan nama latin “Antidesma bunius”.
.
Buah Huni bentuknya kecil-kecil tersusun rapi dalam satu tangkai panjang menyerupai rantai.
.
Jika matang, warna buahnya merah dan enak dimakan dalam keadaan segar. Sayangnya buah ini tak matang secara bersamaan dalam satu tangkai. Biasanya warna merah buah Huni membekas di mulut dan jari.
.
Di gunung Ciremai, biasanya Huni tumbuh pada “vegetasi” hutan alam yang jauh dari jangkauan manusia pada 1000an meter di atas permukaan laut (mdpl).
.
Pohon Huni biasa tumbuh di hutan sekunder yang menggeser padang rumput marginal pada tahap awal suksesi alaminya.
.
Nah buah rantai ini juga merupakan satu dari sekian banyak makanan favorit satwa liar pemakan buah seperti Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Surili Jawa (Presbytis comata), dan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).
.
Pada zaman dulu, Huni merupakan buah meja sebagai pencuci mulut yang disajikan bersama teh tawar hangat.
.
Buah Huni juga bisa dibuat saus-asam untuk olahan ikan. Daun mudanya digunakan untuk memberi aroma ikan atau daging rebus.
.
Buah dan daun muda Huni juga dapat digunakan sebagai pengganti cuka atau bisa dimakan langsung sebagai lalap. Boleh juga dirajang untuk dimasak dengan nasi.
.
Kini, buah ini sudah tak menghiasi meja lagi. Karena buah ini kalah bersaing dengan buah lain yang lebih ekonomis. Mungkin hal inilah yang membuat kita sulit mencarinya di pasaran.
.
#sobatCiremai pernah mencicipi buah Huni?. So, mari kenali, cintai, dan manfaatkan secara bijak tumbuhan sekitar kita.
.
[Teks © Tim Admin, Foto © IG @joechandra_kopicapkembang @buah_jadoel @rahmaalfiah @cahaya_cargo_express | 112019]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: