“Carita Mang Saman Miara Pakaya Pare”

Siang itu langit masih cemberut sejak pagi, tapi entah mengapa ia enggan menurunkan hujan jua (26/11).

Aku hiraukan langit mendung. Ku parkirkan ‘si belalang tempur’ di dekat #BatuKuda pinggir jalan berbatu ke arah wisata alam #BukitSeribuBintang, desa Padabeunghar, Pasawahan, #Kuningan, Jawa Barat.

Setelah menyiapkan diri, ku langkahkan kaki menyusuri jalan setapak mengikuti alur paralon putih. Pikirku mungkin pipa ini menuju mata air Cipari, tujuanku hari ini.

Di satu langkah, aku menengok ke kanan. Betapa kagetnya ku lihat hamparan padi. “Kok ada sawah di sini?”, tanyaku dalam hati.

Langsung aku buka aplikasi ‘Avenza Map’ untuk melihat posisku di peta. “Syukurlah pesawahan itu berada di luar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC)”, simpulku.

Lalu ku putuskan menuju pesawahan yang bak permadani itu. Dari kejauhan terlihat sawah itu dibuat bertingkat-tingkat.

Di pematang sawah ku dapati beberapa gubuk. Rupanya gubuk-gubuk petani ini ada orangnya. Salah seorang dari mereka menyapaku. “Mau ke mana pak?”, tanya pria paruh baya itu.

Aku tak langsung menjawab. Setelah mendekat baru ku sadari ternyata dia Mang Saman, Ketua Bujangga Manik, pengelola wisata alam #BatuLuhur.

“Eh, Mang lagi kerja di sawah?”, tanyaku balik.

Kemudian kami bersalaman dan mengobrol basa basi. Tak lupa ku sampaikan maksud kedatanganku. Lalu Mang Saman mengajakku berjalan menyusuri pematang sawah.

Di pojok sawah kami berhenti. “Kalau mau lihat Surili biasanya muncul di sini sore atau pagi”, kata Mang Saman sambil menunjuk pepohonan di atas tebing.

Paruh waktu menunggu Surili (Presbytis comata) muncul, kami ngobrol ‘ngalor ngidul’ sambil menenggak kopi hitam panas.

“Ini sawah harus ditunggui siang malam karena banyak satwa yang mengincar tanaman Pare (Padi, red)”, buka obrolan Mang Saman.

Menurut Mang Saman, burung dan Babi Hutan (Sus scrofa) merupakan ancaman utama tanaman padi yang tersembunyi ini. Oleh karenanya, ia dan istrinya bergiliran menjaga sawah dari hewan pengganggu tersebut. Hal serupa dilakukan juga para petani lainnya.

“Ada 24 pemilik sawah yang berjaga di sini”, ungkap Mang Saman.

“Kami memasang pagar dari bambu untuk menghalau Babi masuk ke sawah. Ada juga orang-orangan sawah yang berbunyi untuk mengusir burung”, lanjut Mang Saman.

Maklum sawah Cipari ini memang berbatasan langsung dengan TNGC yang masih banyak satwa liarnya.

“Dari dulu sudah begini. Yang penting ikhlas menjalani kehidupan”, pungkasnya.

#sobatCiremai, mendengar cerita Mang Saman, aku jadi teringat waktu kecil sering ikut ke sawah Abah dan Ambu di kampung halaman. Sobat pernah?.

So, mari tetap jaga kekayaan alam kita secara bijaksana.

[Teks & Foto © Tim Admin-BTNGC | 122019]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: