Hubungan Edge Effects dengan Keragaman Kupu Kupu Pemakan buah busuk di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai SPTN Wilayah I Kuningan

HARYANTO, T.. Program Studi Biologi-Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Hubungan Edge Effects dengan Keragaman Kupu-Kupu Pemakan Buah Busuk di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai SPTN Wilayah 1 Kuningan, Komisi Pembimbing, Ketua: Dr.rer.nat. Imam Widhiono M.Z., M.S., Anggota : Dr. Bambang Heru Budianto, M.S..

Kasus fragmentasi banyak terjadi pada daerah penyangga hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang disebabkan oleh aktivitas antropogenik. Hal ini menimbulkan efek negatif, karena dapat meningkatkan resiko kepunahan lokal suatu populasi dan edge effects. Edge effects merupakan dampak yang ditimbulkan karena adanya perbedaan kondisi lingkungan diantara dua habitat yang terfragmentasi dan berpengaruh terhadap satwa yang berada di dalamnya.

Serangga seperti kupu-kupu dapat dijadikan bioindikator karena menghasilkan respon yang spesifik terhadap tingkat kerusakan hutan. Kupu-kupu dapat dibedakan berdasarkan sumber pakannya menjadi kupu-kupu pemakan sari bunga dan kupu-kupu pemakan buah busuk. Kupu-kupu yang akan dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini adalah kupu-kupu pemakan buah busuk, karena kupu-kupu ini sangat peka terhadap perubahan lingkungan, mudah diamati, dan mudah untuk disampling.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai pengaruh edge effects terhadap keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk, mengetahui pola hubungan serta korelasi keterkaitan antara edge effects dengan keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk di kawasan TNGC SPTN Wilayah 1 Kuningan, Jawa Barat.

Pengambilan kupu-kupu dilakukan menggunakan bait trap dengan umpan pisang busuk. Selain itu, dilakukan pengukuran terhadap beberapa parameter lingkungan, antara lain intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin. Analisis untuk mengetahui keanekaragaman jenis digunakan rumus Indeks Shannon-Wiener, sedangkan untuk mengetahui similaritas jenis digunakan rumus Tndeks Morisita-Horn. Analisis regresi korelasi untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin) terhadap nilai variabel terikat (jumlah individu spesies dan banyak spesies kupu-kupu pemakan buah busuk) dan untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel yang diamati dengan faktor yang dicoba.

Penelitian dilakukan bulan Desember 2012 sampai Januari 2013. Lokasi penelitian berada di perbatasan kawasan rehabilitasi, Lempong Bitung, Dusun Mulya Asih, Desa Puncak, Kec. Cigugur, Kab. Kuningan, Jawa Barat, sepanjang 200 m tegak lurus dengan garis perbatasan hutan, yaitu pada jarak 0- 50 m, 50-100 m, 100-150 m, dan 150-200 m.

Hasil menunjukkan bahwa jenis kupu-kupu pemakan buah busuk yang ditemukan (11 jenis) termasuk ke dalam familia Nymphalidae. Keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk pada plot 4 (lokasi 150-200 m) merupakan keragaman tertinggi. Namun hasil penelitian menginterpretasikan bahwa distribusi spesies hampir merata di setiap plot yang diamati, dengan nilai indeks di atas 80%.

Hasil analisis regresi korelasi antara beberapa parameter lingkungan terhadap jumlah individu spesies kupu kupu pemakan buah busuk menunjukan nilai yang signifikal (p < 0,20). Berdasarkan keeratan hubungan (R2) antara intesitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin dengan jumlah individu kupu kupu pemakan buah busuk, maka diketahui kontribusi faktor lingkunga tersebut berturut turut sebsear 0,9%, 2,3%, 1,3%, dan 1,3%. Adapun hasil analisis regresi korelasi antara parameter lingkungan terhadap banyak spesies dari kupu kypu pemakan buah busuk menunjukan nilai yang tidak sidnifikal

Pola hubungan antara pengaruh intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin terhadap jumah individu kupu kupu pemakan buah busuk berturut turut adalah y = (1,962 x 10-8) x2 + x + 0,098, y = o,183×2 – 8,446x + 98,368, y = x2 + 0,091x, – 00,230, dan y = 12,507×3 – 17,485×2 + 6,908x + 1,080.

Edge Effects berpangaruh nyata terhadap keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk di kawasan TNGC SPTN Wilayah 1 Kunigan, Jawa Barat. Pola hubungan pengaruh intensitas cahaya, tempertur udara, kelembaban udara, terhadap jumlah individu kupu-kupu pemakan buah busuk memberikan dinamika jumlah spesies dengan pola kubik. Parameter lingkungan yang di ukur memliki korelasi keterkaitan yang rendah terhadap keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk di kawasan TNGC SPTN Wilayah 1 Kuningan, Jawa Barat.

Unduh file pdf disini

Riset Lainnya
Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: