Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan Hutan di Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat

PENDAHULUAN. Hutan sebagai suatu ekosisiem keberadaannya sangat penting bagi sistem penyangga kehidupan makhluk hidup. Hal ini disebabkan karena hutan berfungsi dalam menghasilkan berbagai manfaat, baik berupa jasa maupun barang yang amat berguna bagi kelangsungan hidup. Di Jawa Barat, seperti juga di belahan wilayah Indonesia lainnya hutan yang kondisinya masih relatif baik umumnya hanya ditemukan di kawasan-kawasan konservasi. Salah satu kawasan hutan konservasi yang relatif besar luasannya adalah Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). TNGC ini merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki fungsi ekologis penting sebagai sistem penyangga kehidupan bagi ekosistem di sekitarnya. Akan tetapi informasi mengenai keanekaragaman hayati yang ada di TNGC masih kurang, karena itu perlu dilakukan penelitian-penelitian untuk mendapatkan informasi mengenai seberapa besar keanekaragaman hayati dan sejauh mana komposisi dan sfruktur tegakan hutan yang ada di TNGC tersebut.

METODOLOGI. Penelifan ini dilakukan antara bulan Agustus sampai dengan September 2008, di zona ketinggian < 1.000 m dpl (zona dataran rendah), 1.0002.400 m dpl (zona montana), dan >2.400 m dpl (zona sub alpin) Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat. Pelaksanaannya dilakukan dengan menggunakan teknik analisis vegetasi yang merupakan kombinasi antara metode jalur untuk risalah vegetasi tingkat pohon dengan metode garis berpetak untuk risalah pemudaan hutan. Untuk memudahkan perisalahan, setiap jalur dibagi kedalam petak-petak 20 m x 20 m untuk risalah tingkat pehon, 10 m x 10 m untuk risalah tingkat tiang, 5 m x 5 m untuk risalah tingkat pancang dan 2 m x 2 m untuk risalah tingkat semai. Unit-unit contoh vegetasi diletakkan pada arah lereng sebelah barat dan selatan pada zona ketinggian 2.400 m dpl. Pada masing-masing arah tersebut dibuat dua unit contoh dengan panjang jalur 200 m dan lebarnya 20 m. Unit-unit contoh diletakkan menggunakan desain sampling berupa systematic sampling With random start.
HASIL DAN IOSIMPULAN, Berdasarkan hasil pengamatan, zona sub alpin mempunyai jumlah jenis yang paling sedikit (11 jenis) pada semua tingkat pertumbuhan bila dibandingkan dengan zona montana (62 jenis) dan zona hutan dataran rendah (58 jenis). Adapun, zona montana jumlah jenisnya relatif lebih banyak bila dibandingkan dengan zona hutan dataran rendah. Pada zona dataran rendah jenis yang dominan adalah huru meuhmal (Litsea tomentosa) pada tingkat semai (INP 33,70/0), kileho (Saurauia pendula BI) pada tingkat pancang (INP 29,30/0), dan pinus (Pinus merkusii) pada tingkat tiang dan pohon (INP 144,70/0 dan 112,80/0). Zona montana, jenis yang dominan adalah huru meuhmal (L. tomentosa) pada tingkat semai (INP 22,60/0), Litsea sp. pada tingkat pancang (INP 19,40/0), walen (Ficus ribes) pada tingkat tiang (INP 32,60/0), dan saninten (Castanopsis argantea) pada tingkat pohon (INP 45,40/0). Zona sub alpin jenis yang dominan adalah pelending (Leucanea glauca) pada tingkat semai dan pancang (INP 640/0 dan 76,40/0), cantigi (Vaccinium varingi folium) pada tingkat tiang (INP 124,30/0), dan jamuju (Dacrycarpus imbricatus) pada tingkat pohon

Unduh file pdf disini

Riset Lainnya
Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: