Balada Babi Hutan


.
Saat mendengar nama Babi Hutan atau “Sus scrofa” pikiran kita langsung tertuju pada mulut moncong, taring tajam, suka menyeruduk, tapi lehernya tak bisa menoleh serta hobinya berkubang.
.
Babi Hutan kerap dianggap hama oleh sebagian masyarakat terutama pemilik lahan yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
.
Indikasinya beberapa tahun lalu terdapat laporan masyarakat yang menyatakan bahwa tanamannya habis dimakan Babi.
.
“Gerombolan Babi Hutan turun gunung pada sore hingga malam. Mereka tampaknya mencari makanan. Lalu mengacak-acak tanaman di ladang kami”, ungkap seorang warga desa Setianegara.
.
Atas dasar laporan tersebut, Balai TNGC berupaya untuk meminimalisir insiden itu dengan memasang pagar kawat di beberapa titik rawan konflik satwa.
.
“Kami akan tindaklanjuti bersama masyarakat dan koordinasi dengan instansi terkait”, tegas Apo, Kepala Resor Perlindungan dan Pengamanan Hutan.
.
Sobat Ciremai, memang tidak dipungkiri, binatang dari “Ordo Artidoctyla” dan “Famili Suidae” ini sangat rakus.
.
Apa saja yang ditemuinya pasti dimakan. Buah-buahan, umbi-umbian, tikus, cacing, bangkai hingga akar pun dimakannya.
.
Dengan daya jelajah hingga enam kilometer setiap harinya, bisa dibayangkan betapa tamaknya hewan ini.
.
Meskipun demikian, Babi Hutan di gunung Ciremai tidak bisa sepenuhnya dianggap sebagai hama.
.
Ya, sebab untuk menyimpulkan “over populasi satwa” memerlukan kajian ilmiah dari para ahli dibidangnya dengan memakan waktu dan biaya yang besar.
.
Ketika Babi Hutan berada dalam kawasan TNGC, otomatis hewan tersebut dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di kawasan konservasi. Tentunya sobat Ciremai sudah paham hal ini kan?
.
Karena secara ekologis, Babi Hutan berperan penting dalam mata rantai makanan sebagai mangsa bagi “Predator” tingkat tinggi seperti Macan Tutul (Panthera pardus) dan Ular Pithon/Sawah (Phithon molurus).
.
Namun saat Babi Hutan tidak berada dalam taman nasional, bukan berarti kita bebas melakukan hal buruk terhadap hewan tersebut.
.
So, kita mesti bersikap bijak. Setiap makhluk hidup pasti punya peran penting dalam keseimbangan ekosistem. Terlebih lagi ada hak untuk hidup bagi setiap makhluk bernyawa.
.
Sobat Ciremai, ayo kita jaga rantai makanan berputar sesuai hukum alamnya. Bila terdapat insiden satwa liar, mohon informasikan kepada kami.
.
[Teks © Yaya Sutirya, foto © Yaya Sutirya & PEH – BTNGC | 052020]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: