Nostalgia Bersama Capung

Tentu sobat sudah tak asing lagin dengan Capung ya?. Dulu waktu kecil, Capung sering ‘diburu’ dengan getah yang dioleskan pada batang bambu kecil. Anak-anak zaman itu juga menggunakan perangkap dari plastik untuk menangkap Capung.

Kini kita sudah dewasa. Yuk kenali ‘helikopter’ kecil ini!.

Capung ialah serangga yang tergolong ke dalam bangsa “Odonata”. Satwa terbang ini nyaris tak pernah berada jauh-jauh dari air. Ya, karena air merupakan tempat mereka bertelur dan menghabiskan masa pra dewasa anak-anaknya.

Satwa bersayap ini biasanya meletakkan telur pada tumbuhan di air. Ada jenis Capung yang senang dengan air menggenang. Tapi ada pula jenis Capung yang senang menaruh telurnya di air yang agak deras.

Nah setelah telur menetas, tempayak atau larva Capung hidup dan berkembang di dasar perairan. Kemudian ia mengalami ‘metamorfosis’ menjadi ‘nimfa’ dan akhirnya keluar dari air sebagai Capung dewasa.

Siklus hidup Capung dihabiskan dalam bentuk ‘nimfa’ yang menggunakan insang internal untuk bernapas.

Tempayak dan ‘nimfa’ Capung hidup sebagai pemangsa daging atau ‘karnivora’ yang ganas. ‘Nimfa’ Capung yang berukuran besar bahkan dapat memburu dan memangsa berudu dan anak ikan.

Namun hidup Capung amat singkat. Umumnya ia hanya bisa hidup empat bulan saja saat dewasa.

Keistimewaan Capung dewasa yakni tidak pernah dianggap sebagai satwa pengganggu atau hama.👌

#sobatCiremai, Capung punya banyak namanya dalam bahasa daerah. Misalnya ‘Papatong’ kata urang Sunda dan ‘Kinjeng’ dan ‘Coblang’ kata wong Jawa. Lantas apa sebutan Capung di daerah sobat?.

So, mari kenali satwa sekitar kita secara virtual.

[Teks & Foto © Tim Admin -BTNGC | 052020]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: