“Ingsun Titip Banyu Cipanten, Gunung Ciremai”


.
Sobat pernah main ke bumi perkemahan (buper) Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Panten, Argalingga, Majalengka, Jawa Barat?. Nah di buper ini ada mata air Cipanten yang punya asal usul kisah menarik lho.
.
Iya, konon mata air Cipanten merupakan petilasan Mbah Kuwu Cirebon Girang atau Pangeran Walangsungsang alias Cakrabuana. Siapakah dia?.
.
Menurut manuskrip Purwaka Caruban Nagari, Mbah Kuwu Cirebon Girang ialah putra pertama pasangan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran dengan Permaisuri Nyi Mas Subanglarang.
.
Saat menginjak remaja, Walangsungsang keluar istana untuk mencari jati diri hingga akhirnya ia mantap memilih ‘keyakinan’ yang tak sama dengan ayahanda beliau.
.
Pada 1445 Masehi ia berhasil mendirikan pelabuhan laut Muara Jati, Cirebon atau Cèrbon di ujung timur wilayah kerajaan Pajajaran.
.
Selain niaga, Mbah Kuwu pun giat melakukan syiar Islam ke seantero pantai utara Jawa (Pantura) Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
.
Tatkala berdakwah itulah, ia acap menyambangi berbagai pedukuhan seperti Panten ini.
.
“Mata air Cipanten itu petilasan Mbah Kuwu Sangkan Cirebon Girang,” ujar Dudi, Ketua Mitra Pariwisata Gunung Ciremai (MPGC) Panten saat berbincang dengan @gunung_ciremai beberapa hari lalu (8/7).
.
Menurut kacamata batin Dudi, waktu itu Mbah Kuwu beserta beberapa pengikutnya sedang melakukan perjalanan pulang dari Galuh (Ciamis, red) menuju Cirebon. Kemudian mereka rehat di area Panten karena memasuki waktu salat Dzuhur.
.
“Pas mau wudhu, ternyata air di Cipanten tak mencukupi”, lanjut pria berambut jagung itu.
.
Masih menurut Dudi, lalu Mbah Kuwu menancapkan ‘iteuk’ (tongkat, red) ke tanah. Saat tongkat dicabut, memancarlah air dari tanah. Konon Mbah Kuwu menyebutnya Cipanten.
.
“Ci artinya air. Panten itu tetap. Jadi singkatnya, Cipanten ialah mata air yang selalu mengalir sepanjang musim,” jelas pria paruh baya itu.
.
Lanjut Dudi, selepas solat berjamaah, Mbah Kuwu berpesan kepada makmum warga setempat agar menjaga mata air ini.
.
“Ingsun titip banyu Cipanten atau saya titip mata air Cipanten,” kata Dudi menirukan amanat Mbah Kuwu.
.
Benar saja, 500 tahun sejak peristiwa itu sampai kini, Cipanten tak pernah kering.
.
“Sebetulnya, itu karena masyarakat setempat tetap menjaga keutuhan ekosistem sekitar Cipanten sehingga air tetap tersedia dan bermanfaat bagi manusia, tumbuhan, dan satwa,” tutupnya.
.
#sobatCiremai, benar atau tidak toponimi Cipanten tadi memang perlu pembuktian ilmiah dari ahli sejarah. Meski demikian, kita masih bisa mengambil hikmahnya.
.
So, mari tetap jaga kelestarian mata air sekitar agar kita tetap bisa manfaatkan secara bijak.
.
[Teks © Tim Admin, Image © IG @agungsilung & Tim Admin-BTNGC|072020]
.

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: