Kawin Cai, Bukan Pernikahan Biasa

Menyambut musim penghujan warga beberapa desa kaki timur gunung Ciremai, Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat rutin menggelar upacara adat Kawin Cai (pernikahan air, red) seperti yang dilakukan kemarin (15/10).

Kawin Cai merupakan ungkapan budaya rasa syukur kepada Allah SWT dalam upaya pelestarian sumber air khususnya sumber air Tirtayatra di Balong Dalem, desa Babakanmulya dan sumber air Tirtawulan di Cibulan, desa Manis Kidul.

“Bukan memuliakan air, tetapi mensyukuri nikmat Gusti Allah,” kata sesepuh Balong Dalem Tirtayatra, Abah Jaja saat ditemui dalam acara Kawin Cai.

Gelaran Kawin Cai tahun ini berlangsung sederhana karena masih dalam masa pandemi Covid 19.

“Tidak ada tarian, musik, dan iring-iringan. Sederhana saja karena masih pandemi,” ungkap Abah Jaja.

Meski digelar sederhana, para ‘inohong’ (pejabat, red) Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat tetap hadir. Terpantau hadir Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Camat Jalaksana, dan Kepala Desa Babakanmulya. Hadir pula Kepala Resor Jasa Lingkungan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dan Sekretaris Pengadilan Agama.

Prosesi upacara adat Kawin Cai layaknya pernikahan manusia.

“Air dari Balong Dalem sebagai pengantin pria dimasukan ke dalam kendi. Kemudian dibawa dan dituangkan ke Cibulan. Selepas itu, air Cibulan pun dibawa dan dituangkan ke Balong Dalem,” jelas Abah Jaja.

Tidak semua air ‘keramat’ tersebut dituangkan ke sumber air, namun sebagian dipakai siraman kepada beberapa tokoh masyarakat yang bertugas mengatur pengairan.

“Ada enam desa yang menerima aliran air yakni Babakanmulya, Jalaksana, Sadamantra, Padamenak, Nanggerang, dan Ciniru. Mudah-mudahan semua berkah. Amin,” ucap sesepuh Cibulan, Abah Agus Suhada.

sobatCiremai mari lestarikan kearifan lokal untuk mendukung harmonisasi alam, manusia, dan budaya.

[Teks & Foto © Tim Admin-BTNGC|102020]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: