“Memayu Hayuning Bawono” Bersama Mas Inung Wiratno

SobatCiremai tentu sudah berulang kali mendengar nama sosok Wiratno disebut. Bukan hanya oleh Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), namun juga oleh admin Balai TN dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) lain. Beliau juga lebih akrab dipanggil mas Inung.

Siapakah sebenarnya mas Inung?.

Pegiat alam dan lingkungan, tentu mengenal sosoknya yang “humble”, humoris, ramah namun juga tegas dan idealis. Saat ini, Wiratno adalah Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Eksistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia sejak 2017. Memulai kiprahnya di KLHK (dahulu Departemen Kehutanan) sejak 1994.

Beliau lahir 59 tahun yang lalu tepatnya pada 28 Maret 1962 di Yogyakarta, sudah menunjukkan eksistensinya terhadap konservasi alam. Sudah tak terhitung jumlah karya untuk keabadian berupa tulisan & buku yang dibuatnya. Salah satu karyanya yang mengawali sepak terjang dalam dunia konservasi adalah “Berkaca di Cermin Retak: Refleksi Konservasi dan Implikasi Lengelolaan Taman Nasional di Indonesia” pada 2001. Buku ini juga menjadi pegangan bagi mahasiswa kehutanan yang masih mengenyam bangku kuliah untuk mengetahui realita pengelolaan taman nasional. Karyanya yang tak kalah tenar adalah “Tersesat di Jalan yang Benar: Seribu Hari Pengelolaan Taman Nasional Leuseur,” terbit pada 2012.

Sebagai pribadi yang dilahirkan sebagai keturunan Jawa, mas Inung memegang teguh prinsip tujuan hidupnya, yaitu “Memayu Hayuning Bawana” yang berarti  memperindah keindahan dunia. Dalam arti lebih luas adalah kewajiban terus berkarya penuh makna demi kemanfaatan untuk kemanusiaan dan kelestarian alam di bumi ini.

Pemikiran-pemikiran beliau memang “out of the box” namun juga menjadi pencerahan, yang tidak hanya pragmatis namun juga dinamis. Tentu semua berlatar belakang fakta di lapangan.

Membangun sebuah “keluarga besar” yang memegang tanggung jawab mengelola kawasan konservasi di Indonesia perlu memiliki segenap rasa dari dasar hati. Sikap gotong royong, toleransi, kekompakan, penuh rasa syukur, dan saling mengingatkan, terutama membangun kebersamaan dalam memanajemen kawasan konservasi.

“Pemimpin pengelola kawasan konservasi itu perlu yang ‘humble’, rendah hati, sabar, pendengar yang baik, tahu kondisi lapang, empati tinggi kepada staf dan keluarganya dengan menyapa, merengkuh, mengangkat, memberi kesempatan stafnya untuk belajar bekerja dan menempuh keilmuan yang lebih tinggi” cetusnya.

Sebuah pemikiran spektakuler dengan judul “Masa Depan Ras Manusia” mampu membius siapapun yang membacanya. Baik pengalaman secara teknis di lapangan maupun tingkat manajemen, tentu memberikan kisah tersendiri bagi mas Inung untuk berbagi kepada orang banyak. Ada banyak tangan yang bekerja tanpa diketahui orang banyak namun keberadaannya memiliki peranan penting.

Sehat dan bahagia selalu mas Inung Wiratno. Goresan tintamu tak akan lekang oleh waktu dan abadi, dan generasi mendatang akan tahu bagaimana perjuanganmu memberi warna baru dalam menjalankan konservasi dengan “Sepuluh Cara Baru”.

Selalu menjadi sosok yang memberi semangat & inspirasi, melalui sentuhan fikiran, sikap dan karya yang kental nuansa seni bukan semata birokrasi, tak hanya pegiat alam dan lingkungan namun juga masyarakat umum lainnya dan semua yang sadar terhadap masa depan ras manusia.

Sebagai kristalisasi dan wujud kecintaan kawan-kawan dekat & kolega mas Inung, Sabtu (27/3) digelar dialog angkringan ‘Senandung Alam & Budaya’ tentang Masa Depan Ras Manusia. Sekali lagi mas Inung menegaskan bahwa, “Konservasi Alam bukan hanya sekedar pekerjaan. Ia adalah jalan hidup yang dipilihkan Tuhan kepada kita. Maka bersyukurlah dengan cara bekerja ikhlas, bekerja keras, dan bekerja cerdas dalam menjalaninya,” begitu pesan abadi yang akan selalu terngiang, sejak Maret 2018.

Sobat, mari torehkan karya kita sebagai anak bangsa yang cerdas dan bertanggung jawab untuk melindungi dan membentengi alam dan lingkungan kita. Karena ada alam yang menyangga, kita semua masih dapat hidup.

“Manusia ternyata bukan penguasa di Bumi. Ia hanya salah satu tamu. Maka sudah seharusnya manusia berlaku sopan, hormat dan mentaati etika yang ditetapkan oleh Bumi,” begitu pesan mas Inung.

So, mari memperindah keindahan dunia dengan perlimdungan, pengawetan, dan pemanfaatan lestari hutan serta lingkungan kita.

[Teks © Tim Admin, Foto © IG @inungwiratno @nuibnuaromi
-BTNGC|032021]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: