Musang Rase, Penghuni ‘Noctural’ Gunung Ciremai


.
Dalam mengumpulkan data potensi keanekaragaman hayati Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sembari ‘jalan-jalan’ mencatat ‘flora’ dan ‘fauna’ yang terjumpai, petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) acap menerapkan metode pemasangan ‘camera trap’ alias kamera jebak.
.
Metode tersebut menggunakan kamera khusus yang dipasang di kawasan TNGC dalam jangka waktu tertentu. Kamera jebak dilengkapi sensor panas dan sensor gerak untuk mendokumentasikan secara otomatis terhadap obyek yang melintas di depan kamera. Dengan demikian PEH bisa mengidentifikasi dan menginventarisasi jenis dan perilaku asli satwa liar di habitatnya. Misalnya Musang Rase (Viverricula indica) yang merupakan salah satu dari jenis-jenis musang yang pernah terdokumentasi dengan kamera jebak.
.
Musang Rase merupakan anggota dari keluarga ‘Viverridae’. Ia bersama anggota keluarga musang lainnya hidup di gunung Ciremai seperti Musang Luwak, Musang Akar, dan Binturong.
.
Musang Rase memiliki penampilan seperti musang pada umumnya. Ciri khas yang dimiliki adalah gelang hitam pada ekornya berjumlah 6 sampai 9 cincin. Ia mengingatkan kami pada lemur ekor cincin dari Kepulauan Madagaskar.
.
Ia menyandang status ‘least concern’ atau resiko rendah dalam daftar ‘Redlist International Union for Conservation of Nature (IUCN)’ sejak 2009. Meski demikian keberadaan musang ini di gunung Ciremai sangat susah dijumpai dan jarang terdokumentasi kamera jebak.
.
#sobatCiremai, hutan gunung Ciremai telah mengalami pemulihan dari waktu ke waktu sebagai habitat yang baik bagi satwa liar. Nah, satwa liar tersebut terus menerus berinteraksi dengan lingkungannya sehingga tercipta keseimbangan ekosistem yang bermanfaat bagi kita. Namun jika perburuan liar dengan dalih perdagangan satwa liar untuk kesenangan tetap berlanjut, maka populasi Musang Rase akan terus menurun bahkan punah seperti yang terjadi pada saudaranya yaitu Binturong.
.
Kehilangan salah satu unsur ekosistem berakibat hilangnya fungsi dan manfaat hutan gunung Ciremai. Maka jangan sampai kiamat awal itu terjadi karena akan menjadi siksaan bagi kita. Stop perburuan liar. Salam lestari!👌.
.
[Teks © Robi G, Foto © BTNGC & CI Indonesia|032021]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: