Yuk Kenali Paku Sarang Burung

Sobat Ciremai, ada yang tahu Paku Sarang Burung?. Sepertinya pernah dengar ya. Paku Sarang Burung (Asplenium nidus) merupakan jenis tumbuhan paku populer. Ia dikenal dengan sebutan ‘Bird Nest Fern’, Kadaka-kata orang Sunda, Kedakah atau Simbar Merah-kata orang Jawa, Lokot-kata orang Kalimantan, Tato Hukung-kata orang Maluku, Bunga Minta Doa-kata orang Makassar dan Bugis.

Penyebaran alami tumbuhan ini di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada tipe ekosistem dataran rendah, sub pegunungan, dan pegunungan.

Tumbuhan paku ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar. Entalnya dapat mencapai 150 centimeter (cm) dan lebar 20 cm yang menyerupai daun pisang. Peruratan daun menyirip tunggal. Warna helai daun hijau cerah dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung. Spora terletak di sisi bawah helai pada urat-urat daun dengan sori tertutup semacam kantung memanjang yang biasa terdapat pada ‘Aspleniaceae’.

Nah, ental-ental yang mengering akan membentuk semacam sarang yang menumpang pada cabang-cabang pohon.

Sarang ini bisa menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan ‘epifit’ lainnya. Tumbuhan Paku ini kebanyakan memang ‘epifit’ alias menumpang pada tumbuhan lain. Tetapi sebetulnya ia dapat tumbuh di mana saja asalkan terdapat bahan organik yang menyediakan hara. Biasanya ia tumbuh bawah tajuk karena menyukai naungan yang teduh.

Selain sebagai tanaman hias yang sederhana, Paku Sarang Burung juga kaya akan manfaat. Wajar saja bila tanaman ini merumah di hati banyak penggemarnya.

Manfaat Paku Sarang Burung antara lain sebagai obat penyubur rambut (Boon, 1999), demam, sakit kepala (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 2000), kontrasepsi, gigitan atau sengatan hewan berbisa (Baltrushes, 2006).

Cara membuat ramuan penyubur rambut dari bahan tumbuhan ini yaitu dengan menumbuk halus daunnya dan dicampur dengan parutan kelapa kemudian dioleskan pada rambut secara merata. Sedangkan cara untuk meredakan gigitan atau sengatan hewan berbisa yaitu dengan menumbuk daunnya secara halus kemudian ditempelkan pada bekas gigitan atau sengatan.

Luar biasa ya sobat, ternyata hutan kita penuh dengan jenis keanekaragaman hayati dengan banyak manfaat. So, mari lestarikan gunung Ciremai agar kita dapat memperoleh manfaat secara lestari.

[Teks © A. Uus Susanto, Foto © A. Uus Susanto & Mahasiswa Fakultas Pertanian Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu-BTNGC|022021]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: