Ku Titipkan Asa Pada Abdi Negara

Di suatu pagi yang indah di batas desa Bantaragung, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat kaki gunung Ciremai. Ku berjalan menapak kaki yang ditemani burung-burung yang sedang bernyanyi. Suara ayam jantan berkokok menemani  pagi yang indah sekali.

Sepertinya aku tak mau beranjak di kampung itu. Dari jauh kelihatan  hamparan sawah, warnanya hijau menyejukkan pandangan mata. Angin semilir bertiup tiada henti menerpa wajah para petani.

Sembari membersihkan rumput di sawah. Di atas pohon burung-burung kecil  berlarian ke sana ke mari. Dari pucuk-pucuk dahan. Kadang-kadang mereka menggoda para petani yang yang sedang asyik bekerja di sawah. Pagi itu benar benar indah dan menyejukkan hati.

Ku sapa mereka dengan senyum dan canda. Terkadang ada pula yang meminta  untuk singgah walaupun hanya sekedar untuk bercerita. Banyak hal yang selalu mereka ceritakan. Mulai dari masalah keluarga sampai ke masalah kesusahan hidup di masa pandemi Corona, juga harapan dan keinginan mereka untuk bisa numpang hidup di kawasan hutan milik negara.

“Pak boleh nggak kami ikut menanam buah-buahan di sela tanaman hutan?. Kami siap menjaga dan melestarikan hutan kalau kami boleh ikut menanam buah buah-buahan di areal kawasan yang sering terjadi kebakaran,” demikian ujar mang Rakim salah seorang petani yang ada di kampung itu.

Aku hanya bisa terdiam dan tersenyum untuk menjawab pertanyaan itu. Mereka berharap agar ada kebijakan yang membolehkan untuk sekedar menitipkan harapan dan keinginan mereka pada Abdi Negara.

Sobat, Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memang mesti sesuai fungsinya yakni konservasi alam yang berorientasi pada pemanfaatan jasa lingkungan secara lestari. Bukan eksploitasi sumber daya alam!.

[Teks © Dadan Polhut, Foto © Tim Admin & Dadan-BTNGC|042021]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: