‘Support’ Ketahanan Pangan, Kepala Balai TNGC Kunjungi Markas Resor Pengawetan


.
Sore ini (29/7), cuaca nampak sedikit mendung. Enaknya ngopi ditemenin pisang goreng ya. Apalagi sambil duduk di bawah pohon melihat pemandangan alam yang sudah Allah SWT ciptakan. Nah kali ini, kami melangkahkan kaki untuk tetap melaksanakan tugas dan fungsi penyelenggaraan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya walaupun dalam suasana PPKM darurat.
.
#sobatCiremai, tentu ingat dengan pertanian sehat yang digaungkan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dalam rangka ketahanan pangan nasional bukan?.Yup, bersama Kepala Balai TNGC, Teguh Setiawan dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Didik Sujianto didampingi Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Silvia Lucyanti mengunjungi karya rekan-rekan PEH Resor Pengawetan, SPTN Wilayah I Kuningan di Nini Kadrem, yang berbatasan dengan Desa Randobawagirang, Mandirancan.
.
Setiba di sana, Kepala Resor, Asep Uus Susanto dan Pelaksana Teknis, Idin Abidin langsung mendampingi Kepala Balai beserta rombongan ke ruang penyimpanan produk pertanian sehat. Produk yang dihasilkan sudah lolos uji coba laboratorium IPB loh sobat!. Uji lab tersebut merupakan salah satu bagian kegiatan dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Fakultas Pertanian IPB University. Produk yang dihasilkan yaitu ‘Plant Growth Promoting Rhizobacteria’ (PGPR), Tahan Kekeringan, Anti Frost dan Anti Hama berupa cairan dan serbuk.
.
Sobat tahu kan, produk Anti Frost sudah diujicobakan di Dieng?. Ternyata hasilnya, tanaman di sana tidak ‘frost’ atau beku walaupun suhu minus 11 derajat celcius.
.
Untuk produk tahan kekeringan, telah diujicobakan pada Angsana (Pterocarpus indicus) dan Lamtoro (Leucaena leuchepala) di areal bekas tambang di Cibinong, Jawa Barat. Hasilnya, tanaman tersebut mengalami tumbuh daun dan pertumbuhan tinggi dalam waktu dua minggu.
.
Berbeda dengan produk lainnya, PGPR diujicobakan di enam desa penyangga TNGC. Desa penyangga yang terpilih yaitu desa Bandorasa Kulon, Cibuntu, dan Gunung Sirah di Kuningan. Sedangkan di Majalengka diterapkan di desa Bantaragung, Cikaracak, dan Sunia. Tanaman yang diujicobakan beragam, dari rawit, bawang, padi, jahe, kopi, ubi, jagung dan bawang putih.
.
Ujicoba pada rawit, terjadi perbedaan terutama pertumbuhan akar, tinggi tanaman dan panjang daun lebih panjang dan hasil produksinya 1,5 kali lebih banyak dibandingkan tanpa penggunaan PGPR. Peningkatan produksi juga terjadi pada bawang merah yang meningkat 7 kali lipat.
.
Pada ubi dan jahe, hasil ujicoba teramati umbi lebih besar dan bagus. Sedangkan ujicoba pada kopi, tanaman lebih cepat berbuah yakni di umur tanaman 12 bulan.
.
Ujicoba lainnya dilakukan pada jagung dengan hasil pertumbuhan bagus walaupun tanpa pupuk. Sedangkan pada bawang putih mampu produksi walaupun di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl).
.
“Bila sudah seperti ini, sudah layak untuk disebarluaskan, agar tujuan peningkatan ketahanan pangan secara nasional dapat tercapai, namun yang perlu diperhatikan bagaimana aturan main dan mekanismenya berdasarkan regulasi”, sambut Teguh Setiawan penuh antusias.
.
“Sebagai bentuk pengabdian masyarakat, produk pertanian sehat juga telah dibagikan secara gratis ke petani di daerah penyangga kawasan TNGC, sambil menunggu mekanisme perbanyakan produk”, tutur Asep Uus Susanto.
.
Mungkin sobat bertanya, untuk apa Balai TNGC campur tangan mengurus pertanian?. Eittsss, sobat perlu tahu ya, kesehatan ekologi TNGC tidak lepas dari kondisi lingkungan penyangganya ya!. Begitupun sebaliknya.
.
Contohnya saat kebakaran hutan. Sebagian besar persawahan akan terkena hama wereng, karena hilang predator alaminya. Nah, kalau begitu siapa yang rugi?.
.
Tak hanya sampai disitu, rekan-rekan PEH juga saat ini sedang membudidayakan ‘Azoella sp’, tumbuhan semacam paku air. Tumbuhan ini akan diolah menjadi pupuk hijau sebagai pakan dari PGPR. Karena pada lahan yang unsur haranya habis oleh penggunaan pupuk kimia perlu makanan ekstra selain dari pupuk kandang. Wow, hebat dan luar biasa bukan upaya Balai TNGC melalui rekan-rekan PEH memajukan negeri?.
.
Nah sobat tentu penasaran kan bagaimana cara membudidayakannya?. Jangan pernah alihkan pandangan sobat ya, karena pastinya akan selalu ada informasi menarik yang akan kami bagi berikutnya.
.
[Teks © Urusan Promosi, Pemasaran, Kehumasan dan Pendakian, foto © PEH-BTNGC|072021]

Ikuti Kami
%d blogger menyukai ini: