Category Flora & Fauna

Konflik Satwa dan Manusia

Konflik antara manusia dan satwa liar terjadi akibat sejumlah interaksi negatif baik langsung maupun tidak langsung antara manusia dan satwa liar. Pada kondisi tertentu konflik tersebut dapat merugikan semua pihak yang berkonflik. Konflik yang terjadi cenderung menimbulkan sikap negatif manusia terhadap satwa liar, yaitu berkurangnya apresiasi manusia terhadap satwa liar serta mengakibatkan efek-efek detrimental terhadap upaya konservasi. Kerugian yang umum terjadi akibat konflik diantaranya seperti rusaknya tanaman pertanian dan atau perkebunan serta pemangsaan ternak oleh satwa liar, atau bahkan menimbulkan korban jiwa manusia. Disisi lain tidak jarang satwa liar yang berkonflik mengalami kematian akibat berbagai tindakan penanggulangan konflik yang dilakukan.

More

Leptophryne cruentata (Kodok Merah, Bleeding Toad/Fire Toad)

Kodok Merah (Leptophyrne cruentata)

Satu lagi bukti kekayaan keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yaitu Kodok Merah. Kodok Merah diketemukan di Blok Ipukan Desa Cisantana Resort Cigugur SPTN I Kuningan.

Kodok Merah atau Leptophryne cruentata merupakan jenis kodok endemik yang langka. Kodok Merah merupakan spesies ampibi endemik Jawa Indonesia yang hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

More

Pusat Pendidikan Konservasi Berbasis Raptor di Blok Lambosir TNGC

Oleh : Nisa Syachera F, S.Hut (Penyuluh Kehutanan)

35

Raptor adalah terminologi lain dari burung pemangsa, masyarakat umum mengenalnya dengan istilah elang, rajawali dan alap-alap. Jenis-jenis ini memiliki peranan cukup penting dalam sebuah ekosistem. Posisinya yang berada pada puncak piramida makanan menjadikan jenis burung pemangsa juga dapat dikatakan Umbrella species (spesies payung) yaitu jenis yang memayungi keberadaan jenis lainnya dalam sebuah ekosistem dan Vocal Species (spesies vocal) yaitu jenis yang penting untuk dijadikan indikator dalam perlindungan suatu kawasan.

More
33ikan dewa 2

Cerita Ikan Dewa !

Ikan Dewa atau masyarakat Kuningan biasa menyebutnya Kancra bodas (Tor douronensis, sinonim Labeobarbus douronensis) adalah spesies ikan kerabat semah dari golongan Actinopterygii dari familia Cyprinidae dalam genus Tor. Ikan ini termasuk ikan langka yang hanya dapat ditemukan di sungai atau kolam yang dikeramatkan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Karena kelangkaannya, orang sunda jaman dahulu menganggap ikan ini suci atau ikan yang dikeramatkan. Hukum adat setempat melarang orang untuk membunuh atauMore
83g

Yurel : Elang Ular Bido

Beberapa hari yang lalu (15/01/2014) Balai TNGC telah melepasliarkan kembali seekor Elang Ular Bido di Blok Lambosir. Pejantan Elang Ular Bido ini dilepasliarkan dari kandang habituasinya oleh Ir. Dulhadi Kepala Balai TNGC dan beberapa wartawan media cetak yang bertugas di wilayah III Cirebon, diantaranya wartawan Pikiran Rakyat, Sindo, Kompas, Radar Cirebon dan Tribun Cirebon. Selain melepaskan Elang, acara ini juga menjadiMore
8323 5 copy

Spesies Kodok Merah Ditemukan di TNGC

Kuningan - Yayasan Pusat Informasi Lingkungan (PILI – Green Network) bekerjasama dengan PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field berhasil menemukan spesies ‘Leptophryne cruentata’ atau Kodok merah dalam kegiatan survey biodiversitas di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremei (TNGC). Penemuan spesies kodok dengan ukuran 2,5 - 4 cm yang oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah dikategorikan “Critically Endangered” ini sangat pentingMore
???????????????????

Pelepasliaran Elang Jawa

Setelah dilakukan habituasi selama 2,5 bulan akhirnya elang jawa dilepas ke alam bebas pada hari selasa (19/11). Pelepasan burung yang mirip dengan lambang negara ini dilakukan di Blok Lambosir yang berada di kawasan TNGC. Hadir dalam acara tersebut Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda, Kepala Balai TNGC, Ir. Dulhadi, Zaini Rahman dari RAIN yang merupakan komunitas pelestaraian burung pemangsa. Turut hadir juga Bupati Kuningan terpilih Hj. Utje Ch Hamid Suganda serta para pejabat kuningan danMore
347

—Si Lambo, Siap Terbang Tinggi—

Si Lambo, seekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang malang pada bulan Agustus 2013 telah ditemukan oleh masyarakat sekitar TNGC lalu diserahkan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat dan selanjutnya dititipkan kepada kami, Balai TNGC.Setelah berkoordinasi dengan instansi terkait dan dukungan dari para sukarelawan (Raptor Indonesia-RAIN), Balai TNGC telah melakukan proses rehabilitasi dan habituasi satwa tersebut.Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dan fisik sertaMore
83Saving garuda 12

Ciri-Ciri Karakter Elang Jawa

Anak Elang Jawa, warna kepala dan mahkotanya coklat kayu manis, tanpa setrip kumis dan setrip mesial, lingkaran mata ketika lahir coklat tua kemudian berubah menjadi abu kebiru-biruan, jambulnya hitam dengan ujungnya putih, punggung dan sayap bagian atas coklat kayu manis, warna bagian bawah ekornya bungalan keabu-abuan dengan garis lebar di bagian ujung yang terlihat. Elang umur dua tahun (remaja) warnaMore
72Saving garuda 2 1

Sejarah Penemuan & Pengamatan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)

Penelitian secara ilmiah mengenai jenis ini dilakukan oleh Johan Coenrad van hasselt dan Henrich Kuhl Yang menangkap Elang Jawa di daerah Gunungfb Salak sekitar tahun 1820-an. Koleksi dua spesimen disumbangkan kepada Nationaal Natuurhistorisch Museum Leiden (Belanda). Sekitar tahun 1855-1860, H.A. Bernstein, seorang dokter kebangsaan Belanda, mendapatkan Elang Jawa di sekitar daerah Gadog, Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Pada tahun 1898, E.P Rillwitz mengkoleksi Elang Jawa dari Gunung Gede dan disimpan di American Museum of Natural History, New York (Amerika Serikat). Keempat spesimen ini More