Category Umum

KALEIDOSKOP 2016

ciremai-1

Ada beberapa kegiatan dan kejadian yang terjadi pada tahun 2016 dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai...

More

29 November : Hari KORPRI

hari-korpri-2copy

More

28 November : Hari Menanam Pohon dan Bulan Menanan Nasional

hari-menanam

More

Hari Pahlawan

hari-pahlawan-copy

More

Sumpah Pemuda

sumpah-pemuda-copywa

More

Tour De Linggarjati 2016

tour-de-linggarjati-2016-copy-web

More

MONITORING SUMBERDAYA AIR DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI

OLEH PEH BALAI TNGC

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.      Latar Belakang

Salah satu jasa lingkungan terpenting dari kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) adalah air, yang merupakan output dari fungsi ekologi kawasan dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat sekitarnya.  Air di kawasan TNGC berguna langsung sebagai air konsumsi dan keperluan rumah tangga serta menghasilkan barang dan jasa dalam bentuk industri air bersih yang dikelola secara komersial oleh beberapa badan usaha di daerah sekitar kawasan.

Pemanfaatan air di kawasan TNGC perlu mendapat perhatian karena hal ini merupakan “core bussines” kawasan selain wisata dan panas bumi dan menyangkut hajat hidup masyarakat luas. Potensi sumber mata air yang ada di kawasan TNGC menjadikan gunung ciremai sebagai salah satu “menara air” yang potensial di Jawa Barat. Fungsi hidrologis kawasan sebagai suplai air bersih dan pengatur tata air bagai masyarakat di 5 wilayah administratif yaitu Kuningan, Majalengka, Cirebon, Indramayu, dan  Brebes.

Seiring dengan meningkatnya pertambahan penduduk dan berbagai jenis usaha masyarakat disekitar kawasan konservasi maka pemanfaatan air dari dalam kawasan cenderung meningkat, seperti halnya di sekitar kawasan TNGC. Berkenaan dengan semakin berkembangnya model pemanfaatan air di kawasan konservasi tersebut maka diterbitkan Peraturan Menteri Kehutanan No. 64/Menhut-II/2013 tentang Pemanfaatan Air dan Energi Air di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. Salah satu amanat peraturan tersebut adalah tersedianya data sumber air di dalam kawasan baik yang sudah dimanfaatkan ataupun belum, dan data tersebut harus di monitoring secara periodik. Untuk itu sebagai tindak lanjut dari kegiatan monitoring sumber air sebelumnya dan menjalankan amanat peraturan di atas, maka tahun ini dilakukan kegiatan monitoring potensi sumberdaya air lingkup kawasan TNGC.

More

Dirgahayu TNGC

hut-tngc-2016-copy-oke-wa

More

Siswa Sekolah Belajar Mengamati Migrasi Raptor Bersama Kelompok Studi Konservasi Fakultas Kehutanan UNIKU

Oleh : Opik, Amellya, Adreansyah, Faisal, Deni

 Pada hari Minggu 9 Okterber 2016, nampak keramaian di sekitar Batu Luhur Kabupaten Kuningan. Lokasi destinasi wisata yang memiliki pemandangan menarik dengan atraksi hamparan bebatuan vulkanik purba ini, senantiasa dikunjungi oleh masyarakat terutama hari libur (minggu). Namun keramaian kali ini bukan disebabkan wisatawan tapi oleh sekumpulan anak-anak muda siswa sekolah dan mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan. Sejak pukul 8.00 WIB mereka telah berkumpul untuk menyaksikan “segerombolan” burung pemangsa migran dari berbagai Negara. Kelompok Studi Konservasi (KSK) Fahutan UNIKU sebagai koordinator kegiatan menjelaskan bahwa kegiatan Monitoring Migrasi Raptor adalah perpaduan kegiatan edukasi dan wisata minat khusus. Edukasi ditekankan pada advokasi dan sosialisasi tentang peran Raptor (burung pemangsa) dalam ekosistem serta bagaiman kita peduli terhadapnya. Sedangkan kegiatan Monitoring Migrasi Raptor dapat disebut sebagai wisata minat khusus karena momen untuk melihat segerombolan  burung migran adalah momen langka hanya terjadi dua tahun sekali (arus datang dan arus balik).

p-idin-copy-1

 Proses edukasi mengenai Burung Raptor

More

12 Tahun Taman Nasional Gunung Ciremai : “Memantapkan Jalan Menuju Kedaulatan Rakyat!”

kubang-7-web(Salah Satu Wisatawan di Obyek Wisata Bukit Seribu Bintang)

Dokumen keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 menjadi titik balik perubahan fungsi gunung ciremai yang semula berstatus hutan lindung yang kelola oleh Perum Perhutani menjadi stastus taman nasional seluas ±15.500 Ha yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka yang kelola oleh Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) di bawah wewenang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kemudian pada tahun 2014 kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ditetapkan seluas 15.500 Ha melalui keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.3684/Menhut-VII/KUH/2014.

Dengan demikian kawasan TNGC seluas 15.500 Ha itu harus berubah wajah menjadi kawasan konservasi yang menerapkan segala aturannya.

More